Jejak Perbankan China di Balik Bencana Ekologis Sumatera

2026-01-12 06:25:03
Jejak Perbankan China di Balik Bencana Ekologis Sumatera
JAKARTA, - Perkumpulan Transformasi untuk Keadilan Indonesia atau TuK Indonesia melaporkan, terdapat peran lembaga keuangan terhadap pembiayaan ke perusahaan yang eksploitatif dalam bencana ekologis di Sumatera.Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indoneisa Abdul Haris melaporkan, terdapat sekurang-kurangnya tujuh perusahaan yang terlibat aktif melakukan eksploitasi di Sumatera Utara.Perusahaan-perusahaan tersebut juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab terjadi bencana di Sumatera.Bank yang memberikan pembiayaan untuk perusahaan-perusahaan tersebut didominasi oleh bank yang berasal dari China."Bank-bank ini dominasi dari institusi pembiayaan atau bank ini adalah bank yang berasal dari China dan menduduki peringkat paling pertama adalah bank dari China," kata dia dalam Konferensi pers Jejak Pembiayaan di Balik Bencana Ekologis Sumatera, Senin .Baca juga: Kerugian Banjir Sumatera Capai Rp 68,67 Triliun, Siapa Tanggung Jawab?Ia menambahkan, data tersebut menunjukkan bahwa investasi atau pembiayaan asing memiliki peran besar dalam industri ekstraktif di Indonesia.Hal ini juga terjadi pada industri ekstraktf lain misalnya adalah yang terjadi pada komoditas nikel di Maluku Utara."Ada banyak sekali bank China di sana terlibat pembiayaan," imbuh dia.DOK PRIBADI FEBRI Warga korban banjir di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu Hal serupa yang terasa adalah adanya kerusakan lingkungan yang masif terkait dengan segmen pembiayaan tersebut.Seiring dengan itu, himpunan bank milik negara (himbara) juga tampak masih menyalurkan pembiayaan ke beberapa perusahaan yang melakukan eksplorasi di Sumatera tersebut.Untuk itu Haris berharap publik membangun kesadaran dan meminta kepada perbankan untuk meninjau ulang pembiayaan yang memiliki potensi perusakan lingkungan tersebut."Kita bisa memberikan tekanan pada institusi keuangan bahwa pembiayaan yang kalian salurkan kepada perusahaan di Sumatera itu memiliki risiko yang tinggi terhadap kerusakan hutan," ungkap dia.Baca juga: Operasi Tambang Martabe Dihentikan, Wamen ESDM: Untuk Audit LingkunganDirektur Eksekutif WALHI Sumatera Utara Rianda Purba mengidentifikasi dalam 10 tahun terakhir terdapat lebih dari 10.000 hektare lahan yang berkurang di wilayah ekosistem Batang Toru, Tapanuli.Ekosistem Batang Toru ini merupakan penyangga siklus hidrologis wilayah yang saat ini terdampak banjir paling parah di Sumatera Utara.Secara total ekosistem Batang Toru memiliki luas sekitar 240.000 hektare yang terdiri dari kawasan hutan lindung, areal penggunaan lain (APL), hingga pemukiman."Jadi kami identifikasi ada 10.000 hektare lebih lahan yang berkurang di wilayah tersebut dan itu hasil kerja dari 7 perusahaan yang kami identifikasi," ungkap dia.


(prf/ega)