BOGOR, – Bagi banyak pecinta hewan, kehilangan anak berbulu (anabul) bukan sekadar kehilangan peliharaan, melainkan kehilangan anggota keluarga.Di momen inilah, sebuah rumah kremasi bernama Rainbow Bridge Memorial House menjadi ruang perpisahan yang memberi ketenangan.Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pemilik hewan memilih kremasi dibandingkan menguburkannya di tanah.Selain itu, kremasi memberi kesempatan bagi pemilik membawa pulang abu hewan kesayangannya sebagai kenangan.Baca juga: Mengenal Krematorium Cilincing, Tempat Kremasi Jenazah Tertua di Jakarta Berletak di kawasan Rawakalong, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, bangunan itu tampak sederhana.Pagar bambu, rumah sederhana, dan suasana yang seolah menyatu dengan pepohonan di sekelilingnya.Namun, begitu melangkah masuk, suasana terasa berubah. Ada duka yang berdiam di udara, tapi juga cinta dan penghormatan.Di halaman depan, beberapa anjing berlarian dan menyambut tamu dengan gonggongan pelan.Di sudut bangunan, rak-rak kayu dipenuhi guci kecil berwarna putih, masing-masing dengan foto hewan yang pernah menjadi kesayangan seseorang.Wajah-wajah yang tak lagi ada di dunia, tetapi masih “pulang” ke tempat ini untuk terakhir kalinya.Di sinilah Joan Pascaline Majabubun membangun sesuatu yang lebih dari sekadar layanan kremasi.Ia menciptakan jembatan—penghubung antara manusia dan kenangan terakhir mereka terhadap hewan yang dicintai.Baca juga: Begini Nasib 19 Karyawan Terra Drone yang Viral Terjebak di Atap saat KebakaranJoan mengisahkan, perjalanan menuju pekerjaan ini tidak dimulai dari hal yang indah.Salah satu pengalaman paling menyakitkan itu yakni kala ia menyelamatkan Boja, anak anjing yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.Meski ia merawat Boja dengan penuh harapan, virus parvo merenggut nyawa hewan kecil itu.Kesedihan itu berubah menjadi amarah ketika ia melihat proses kremasi Boja tidak dilakukan dengan layak.“Karena kekecewaan itu, jadi gue mau bikin tempat kremasi yang seperti yang gue mau, di mana tempat kremasinya kayak punya sendiri gitu," kata Joan saat ditemui di Rainbow Bridge Memorial House, Selasa .Semua berawal dari niat menyelamatkan seekor anjing, meski kondisi keuangannya sedang kekurangan.Ada orang yang menemukan anjing tersebut, lalu mengawinkannya dan menjual anak-anaknya. Joan mencoba menolong, dibantu seseorang yang iba pada kondisinya.Dalam benaknya, ia hanya ingin memberikan hidup yang layak bagi Boja.Saat proses kremasi dilakukan, kekecewaan itu semakin dalam.Ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, sesuatu yang membuat perasaan kehilangan berubah menjadi kemarahan.“Jadi gue bawa kremasi satu tempat, terus gue ngeliat si orangnya itu ada yang dia buang. Gue bilang, ‘apaan tuh yang dibuang?’," kata Joan."Gue cari ternyata kakinya anak gue yang gak selesai kekremasi. Dibuang gitu aja? Ngamuk gue," sambung dia.Dari pengalaman itu, muncul tekad untuk membangun tempat kremasi yang menghormati hewan dan pemiliknya.Baca juga: Kala Kebakaran Gedung Terra Drone Renggut Nyawa Ibu Hamil yang Akan Melahirkan Bulan DepanDi halaman tanah yang teduh, suara lantunan ayam dan pohon bergesekan menjadi latar proses perpisahan. Joan berjalan santai, menyapa hewan-hewan yang menghuni tempat itu.Meski fasilitasnya sederhana, banyak pemilik hewan menemukan ketenangan di sini.Bagi Joan, kasih sayang tidak pernah bisa diukur oleh bentuk hewan atau bagaimana orang lain menilainya.“Namanya sayang kan kita gak bisa membatasi gitu ya, unlimited gitu loh. Kayak kemarin, gue kremasi, dia itu punya kayak lipan gitu. Gue kremasi di sini,” kata Joan.
(prf/ega)
Rumah Kremasi Hewan, Tempat Tidur Terakhir Peliharaan Kesayangan
2026-01-11 03:35:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:46
| 2026-01-11 03:24
| 2026-01-11 03:07
| 2026-01-11 02:34
| 2026-01-11 02:13










































