Lawan Inflasi dan Pulihkan Ekonomi, Jepang Gelontorkan Stimulus Rp 2.262 Triliun

2026-01-11 22:28:50
Lawan Inflasi dan Pulihkan Ekonomi, Jepang Gelontorkan Stimulus Rp 2.262 Triliun
TOKYO, - Kabinet Jepang pada Jumat menyetujui paket stimulus senilai 21,3 triliun yen atau setara 135,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.262,85 triliun). Hal ini  sebagai upaya Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk mendorong ekonomi yang melemah dan memberikan dukungan kepada masyarakat yang terdampak inflasi.Menurut laporan NHK, paket stimulus tersebut didasarkan pada tiga pilar utama yakni mengatasi kenaikan harga, memperkuat ekonomi, serta meningkatkan kemampuan pertahanan dan diplomasi. Media lokal menyebut langkah ini sebagai paket stimulus terbesar sejak pandemi Covid-19.Pemerintah Jepang juga mengumumkan akan memperluas bantuan dana pemerintah daerah, serta memberikan subsidi untuk tagihan listrik dan gas. Kebijakan ini mulai berlaku Januari mendatang, dengan nilai dukungan sekitar 7.000 yen per rumah tangga standar selama periode tiga bulan. Selain itu, pajak bensin akan dihapuskan.Baca juga: Stimulus Perbankan Rp 76 Triliun: Strategi Menkeu Purbaya Jaga Likuiditas dan KreditJepang juga berencana membentuk dana 10 tahun untuk memperkuat industri galangan kapal, serta menerapkan kebijakan untuk meningkatkan belanja pertahanan menjadi 2 persen dari PDB pada tahun fiskal 2027.Pemerintah menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menyusun anggaran tambahan untuk mendanai langkah ini dan menargetkan pengesahannya sebelum akhir tahun dengan bantuan partai oposisi.Partai Demokrat Liberal yang berkuasa saat ini tidak memiliki mayoritas, tetapi berkoalisi dengan Japan Innovation Party. Total kursi koalisi mencapai 231 kursi, atau masih kurang dua dari mayoritas di 465 kursi di Majelis Rendah.Takaichi mengatakan pemerintah akan menggunakan pendapatan negara untuk mendanai paket tersebut, dan kekurangan dana akan ditutup melalui penerbitan obligasi pemerintah.Ia menambahkan bahwa jumlah obligasi pemerintah yang diterbitkan kemungkinan lebih kecil dari 42,1 triliun yen yang diterbitkan setelah anggaran tambahan tahun lalu, sambil menegaskan bahwa keberlanjutan fiskal tetap menjadi pertimbangan.Namun, langkah tersebut menuai respons pasar obligasi. Jesper Koll, Direktur Ahli di perusahaan jasa keuangan Monex Group, mengatakan kepada CNBC bahwa langkah Takaichi akan "mengguncang pasar obligasi pemerintah Jepang".Obligasi Jepang sebelumnya menunjukkan tren pelemahan, dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2008 pada Kamis, yaitu 1,817 persen. Pada Jumat, imbal hasil turun menjadi 1,785 persen.Koll menilai bahwa meskipun Takaichi memenuhi janji kampanye dengan anggaran yang lebih besar dari perkiraan, fokus kebijakan ini lebih bersifat populis jangka pendek dan tidak menciptakan insentif untuk reformasi struktural jangka panjang.Paket stimulus ini disahkan di tengah inflasi Jepang yang terus berada di atas target bank sentral, sehingga memicu kekhawatiran baru dari pejabat senior.“Bantuan pendapatan dan harga hanya memberi dorongan jangka pendek terhadap daya beli, tetapi tidak menyelesaikan tekanan inflasi mendasar,” kata Koll. Menurutnya, ekonomi Jepang membutuhkan reformasi sisi penawaran, bukan stimulus berbasis permintaan.Inflasi tahunan pada Oktober naik menjadi 3 persen dari 2,9 persen, dan telah bertahan di atas target 2 persen bank sentral selama 43 bulan berturut-turut. Inflasi inti, tidak termasuk harga makanan segar, juga berada di level 3 persen.Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, mengatakan kepada parlemen bahwa pelemahan yen dapat mendorong biaya impor dan meningkatkan tekanan harga.Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, juga memperingatkan volatilitas yen dan memberi sinyal kemungkinan intervensi, dengan mengatakan dirinya “khawatir terhadap pergerakan tajam satu arah di pasar valuta asing,” menurut Reuters.Kekhawatiran inflasi ini diperburuk oleh melemahnya ekonomi Jepang. Data pemerintah menunjukkan PDB pada kuartal Juli–September menyusut 0,4 persen dibanding kuartal sebelumnya, atau turun 1,8 persen secara tahunan, kontraksi pertama dalam enam kuartal terakhir.Namun, data perdagangan Oktober yang dirilis Jumat memberi sedikit harapan, dengan ekspor naik 3,6 persen year-on-year, mengalahkan proyeksi pasar setelah peningkatan pengiriman ke Asia dan Eropa mengimbangi penurunan ekspor ke AS.Baca juga: Stimulus Akhir Tahun, Pemerintah Beri Diskon Tiket Kereta, Kapal, hingga Pesawat di Nataru


(prf/ega)