Ibnu Sutowo, Konglomerat Orde Baru, Pendiri Hotel Sultan

2026-01-12 03:45:33
Ibnu Sutowo, Konglomerat Orde Baru, Pendiri Hotel Sultan
- Polemik kepemilikan lahan di atas berdirinya Hotel Sultan Jakarta, kini memasuki babak baru. Hotel mewah bintang lima ini diketahui berdiri di atas lahan sengketa.PT Indobuildco selaku pemilik Hotel Sultan saling gugat menggugat dengan pemerintah di pengadilan. Kedua belah pihak memperebutkan pengelolaan tanah maupun bangunan yang berdiri di atas lahan kawasan Senayan tersebut.Terbaru, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakarta Pusat) menegaskan bahwa hak guna bangunan atas nama PT Indobuildco selaku pengelola Hotel Sultan sudah dihapus sejak 2023.Pengadian meminta Indobuildco segera mengosongkan lahan yang disengketakan. Tak sampai di situ, perusahaan ini juga diwajibkan membayar royalti 45,3 juta dollar AS atau setara dengan setara dengan Rp 754,73 miliar.Putusan perkara tersebut dimuat dalam Keputusan PN Jakarta Pusat Nomor 208/PDT.G/2025/PN.JKT.PST terkait gugatan perdata pengelola Hotel Sultan, PT Indobuildco, melawan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg).Baca juga: Awal Mula Ibnu Sutowo Membangun Hotel Sultan di Lahan Milik NegaraIndobuildco sendiri merupakan perusahaan yang didirikan Ibnu Sutowo untuk membangun dan mengelola Hotel Sultan (dulu Hotel Hilton). Kini perusahaan tersebut dikelola oleh generasi kedua, Pontjo Sutowo.Nama Ibnu Sutowo sangat kondang dalam sejarah Indonesia. Bahkan namanya masih diingat oleh beberapa generasi sampai hari ini, terutama mereka yang lahir di era Orde Baru.Sosoknya dikenal punya banyak peran, dari mulai seorang dokter, perwira TNI, dan tokoh penting yang pernah menduduki jabatan Direktur Utama PT Pertamina paling lama.Kariernya bermula dari dunia medis. Ia menamatkan pendidikan dokter di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya pada 1940. Lahir pada 23 September 1914 di Grobogan, Jawa Tengah, wilayah yang kala itu dikenal tandus.Mengutip arsip Harian Kompas terbitan 13 Januari 2001, langkah awal Ibnu Sutowo sebagai dokter dimulai lewat keterlibatannya dalam program pemberantasan malaria di Palembang.Namun, ketika perang mempertahankan kemerdekaan pecah, ia memilih terjun ke dunia militer dan dipercaya memimpin Jawatan Kesehatan Tentara Divisi VIII/Garuda di Sumatera Selatan.Ibnu Sutowo resmi bergabung dengan TNI Angkatan Darat pada 5 Desember 1946. Hampir satu dekade kemudian, pada 1955, ia menjabat sebagai Panglima TT-II Sriwijaya.Baca juga: Ini Alasan Pontjo Sutowo Kembali Ajukan Banding soal Hotel SultanIbnu Sutowo turut memimpin Operasi Sadar yang digelar untuk menumpas PRRI di Sumatera Selatan pada 1958. Perjalanan kariernya terus menanjak.Pada 1957, ia ditugasi mengelola PT Tambang Minyak Sumatera Utara (PT Permina), cikal bakal PT Pertamina setelah digabung dengan perusahaan minyak negara lainnya pada 1968.Ketika itu, KSAD Letjen Nasution tengah mendorong kebijakan dwifungsi, membuka peluang bagi Ibnu Sutowo menjalankan peran ganda sebagai perwira aktif sekaligus pengelola perusahaan minyak negara.


(prf/ega)