SURABAYA, - Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menilai pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh melalui skema Danantara lebih tepat dibandingkan membebani APBN.Hal tersebut diungkapkan Dosen Departemen Ilmu Ekonomi, Unair, Rumayya, PhD bahwa pembiayaan proyek Whoosh menggunakan Danantara memang lebih baik karena tidak membebani anggara negara secara terbuka.Namun, ia menegaskan bahwa Danantara juga menjadi uang publik sehingga apabila tanpa adanya transparansi, pembatasan risiko, dan laporan manfaat yang jelas, maka dapat menjadi APBN yang terselubung.“Meski Danantara itu bukan APBN tapi itu bisa tetap akan berujung ke penggunaan uang negara tapi tidak melalui mekanisme anggaran resmi,” kata Rumayya saat dihubungi Kompas.com, Rabu .Baca juga: KPK Didorong Usut Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat WhooshIa menjelaskan bahwa biaya proyek Whoosh sangatlah tinggi dengan total investasi mencapai sekitar 7,3 miliar dolar AS untuk jarak kurang lebih 142 kilometer.Artinya, per kilometernya memakan biaya sekitar 51 juta dolar AS, yang mana menjadi salah satu proyek kereta cepat tertinggi di dunia.“Untuk perbandingan, biaya per kilometer kereta cepat di Tiongkok sekitar 22 juta dolar AS, di India sekitar 39 juta dolar AS. Padahal GDP (Produk Domestik Bruto) per kapita Indonesia jauh lebih rendah,” ujarnya.Baca juga: Beban Hutang Kereta Cepat Whoosh Berisiko Turunkan Layanan PT KAIHal tersebut berarti beban fiskal yang harus ditanggung Indonesia relatif jauh lebih berat.Selain itu, adanya produktivitas konstruksi yang rendah sebab dibutuhkan lebih banyak pekerja dan waktu per kilometer dibandingkan proyek kereta cepat negara lain.Menurut proyeksi awal apan International Cooperation Agency (JICA) pada 2015 memprakirakan jumlah penumpang harian Whoosh mencapai diatas 50.000.Namun, realisasi operasional yang didapatkan hingga saat ini, penumpang harian Whoosh hanya sekitar 16.000 sampai 21.000 penumpang per harinya.“Ini artinya utilisasi masih jauh di bawah target awal, maka konsekuensinya semakin rendah pemanfaatan, semakin besar risiko proyek tidak bisa menutup biaya operasional dan utangnya. Hal ini memperbesar ketergantungan pada subsidi atau restrukturisasi utang,” jelasnya.Baca juga: KPK Telaah Saksi yang Akan Diperiksa terkait Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat WhooshOleh karenanya, meski Danantara tidak masuk dalam laporan belanja negara, tapi apabila proyek Whoosh cenderung merugi, maka tetap saja negara yang akan menanggung.“Jadi beban akhirnya bisa sama, hanya saja lebih tertutup dan sulit diawasi publik. Ini worst case seandainya pakai Danantara terus merugi, ujung-ujungnya APBN yang akan nalangin,” ujarnya.Ia merekomendasikan pembiayaan Whoosh sebaiknya menggunakan pembiayaan campuran.
(prf/ega)
Pakar Ekonomi dari Unair: Pembiayaan Proyek Whoosh Lebih Baik Pakai Danantara, Bukan APBN
2026-01-12 06:12:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:00
| 2026-01-12 06:33
| 2026-01-12 04:57
| 2026-01-12 04:34
| 2026-01-12 04:29










































