Pakar IPB: Sumatera Peringkat Satu Kehilangan Biodiversitas di Indonesia

2026-01-15 07:30:17
Pakar IPB: Sumatera Peringkat Satu Kehilangan Biodiversitas di Indonesia
– Pulau Sumatera kini berada dalam titik kritis lingkungan. Berdasarkan data terbaru, wilayah ini mencatatkan tren kehilangan biodiversitas atau keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.Kondisi tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof Syartinilia, dalam forum "LRI TALK #3 Bersama Menjaga Sumatera".Menurutnya, ancaman kepunahan spesies dan kerusakan ekosistem di Sumatera melampaui wilayah besar lainnya seperti Kalimantan dan Papua.Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem Malam Tahun Baru 2026, Jawa dan Sumatera Diprediksi Hujan Sangat Lebat“Analisis pada skala meso di Pulau Sumatera menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) menunjukkan bahwa, berdasarkan data global periode 2017–2020, Sumatera mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia,” ungkap Prof Syartinilia dikutip dari laman resmi IPB University.Jika pola aktivitas manusia saat ini atau skenario business as usual terus berlanjut, masa depan ekosistem Sumatera diprediksi akan semakin suram.Prof Syartinilia menyebutkan bahwa kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai 15 persen.Namun, angka tersebut masih bisa ditekan jika pemerintah dan pemangku kepentingan beralih ke skenario keberlanjutan.“Pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen, sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11 persen,” jelas Sekretaris Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI LPI) IPB University tersebut.Ancaman nyata juga menghantui satwa karismatik kebanggaan Indonesia.Habitat gajah Sumatera diproyeksikan bakal menyusut drastis hingga 66 persen. Sebaliknya, pendekatan berkelanjutan, berpotensi meningkatkan habitat mereka sebesar 5 persen.“Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” tegasnya.Baca juga: Banjir Sumatera Berpotensi Terulang Lagi akibat Kelemahan Tata KelolaKajian IPB University yang akan menjadi bagian dari dokumen National Communication ini juga menyoroti kerentanan ekosistem nasional terhadap perubahan iklim. Secara nasional, ekosistem lahan basah dan pegunungan ditemukan sebagai tipe yang paling rapuh.Prof Syartinilia menekankan bahwa faktor antropogenik atau aktivitas manusia menjadi pemicu utama yang memperparah dampak perubahan iklim, seperti kenaikan suhu dan cuaca ekstrem.“Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia,” tuturnya.Sebagai solusi, IPB University merekomendasikan lima aksi adaptasi prioritas yang berfokus di Sumatera, yakni:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dampak kecelakaan tersebut dinilai sangat fatal. Sebanyak 16 penumpang dinyatakan meninggal dunia. Rinciannya, 15 korban tewas di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya meninggal dunia saat menjalani perawatan medis di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.Selain korban meninggal, sebanyak 17 penumpang lainnya mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, sembilan korban harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.Fakta lain yang terungkap dalam penyelidikan awal adalah latar belakang pengemudi bus. Sopir PO Cahaya Trans tersebut diketahui masih tergolong baru mengemudikan rute Bogor–Yogyakarta.Pengemudi baru dua kali melakukan perjalanan pulang-pergi pada rute tersebut dan kini telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dalam peristiwa kecelakaan maut di Tol Kota Semarang ini, pengemudi dilaporkan hanya mengalami luka ringan.Baca juga: Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Semarang, Polisi Dalami Dugaan Sopir Minim Jam TerbangDok. SAR Semarang Kecelakaan maut terjadi di ruas simpang susun Exit Tol Krapyak Kota Semarang, Jawa Tengah terjadi pada Senin pukul 00.30 WIB dini hari. Salah satu korban selamat adalah kernet bus, Robi Sugianto (51), warga Bumiayu, Kabupaten Brebes.Robi mengalami patah tulang pada kaki kanan serta luka di bagian kepala. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kernet berada di bagian depan bus dan menyadari kendaraan tiba-tiba miring ke kanan sebelum akhirnya terguling dan menghantam pembatas jalan tol.Polda Jawa Tengah memastikan seluruh korban kecelakaan bus PO Cahaya Trans mendapatkan penanganan medis secara maksimal dan profesional.Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan tunggal di Simpang Susun Krapyak tersebut masih dalam proses penyelidikan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemeriksaan kondisi kendaraan, kontur dan kondisi jalan, hingga faktor pengemudi.Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Penampakan Bus Maut Kecelakaan di Tol Krapyak Semarang Akibatkan 16 Orang Meninggal

| 2026-01-15 06:13