BMKG Prediksi La Nina Lemah di DIY, Curah Hujan Meningkat Jelang Nataru

2026-01-31 11:58:43
BMKG Prediksi La Nina Lemah di DIY, Curah Hujan Meningkat Jelang Nataru
YOGYAKARTA, – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprediksi musim penghujan tahun ini akan dipengaruhi oleh fenomena La Nina lemah, yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas, menjelaskan bahwa La Nina lemah diperkirakan akan berkembang hingga awal tahun, sehingga meningkatkan intensitas curah hujan di wilayah DIY.“Kalau kita perhatikan, La Nina akan berkembang ke moderate tetapi masih lemah, sampai awal tahun depan sekitar Januari Februari,” ujar Reni dalam paparannya di kegiatan Pengecekan Kesiapsiagaan Tanggap Bencana di DIY, Jumat .Baca juga: Anak dan Pelajar Jadi Sasaran, Polri Temukan Tren Baru Rekrutmen TerorismeMenurutnya, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari hingga Februari 2026, dan kondisi ini dapat memicu cuaca yang lebih basah dibandingkan biasanya.“Kita harus mewaspadai kondisi iklim yang cenderung lebih basah daripada normalnya. Kami prediksi di seluruh wilayah DIY sudah memasuki awal musim hujan pada Oktober dasarian 3, sehingga di bulan November ini kami pastikan seluruh wilayah sudah memasuki musim hujan,” kata dia.Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit melakukan peninjauan kesiapsiagaan bencana untuk memastikan persiapan menghadapi potensi cuaca ekstrem.“Curah hujan di November di atas normal terjadi sampai Februari. Ini menimbulkan potensi bencana banjir, tanah longsor,” kata dia.Jenderal Listyo menambahkan, potensi banjir dan tanah longsor juga bisa terjadi di kawasan wisata, terutama mengingat aktivitas Gunung Merapi yang masih menunjukkan erupsi harian.“Gunung Merapi setiap hari terjadi erupsi, tanggap bencana harus disosialisasikan sehingga masyarakat terupdate informasi, sehingga pada saatnya manakala dilakukan evakuasi masyarakat sudah terinformasi,” ujarnya.Ia juga mengecek perlengkapan evakuasi, mulai dari peralatan darat hingga laut.“Kita cek satu per satu Alhamdulillah semuanya lengkap, saya pesan selalu dicek peralatannya agar siap pakai. Tadi juga ada mobil yang dilengkapi bak untuk mengangkut alat SAR,” kata dia.Kapolri menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak menjelang periode Nataru, mengingat intensitas hujan diprediksi cukup tinggi.“Pada saat masyarakat mudik di Nataru, liburan saat Nataru, seluruh wilayah yang punya potensi bencana tim SAR kita siap,” ucapnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-31 10:17