PDIP: Natal adalah Awal Penyelamatan, Menjaga Hutan, dan Penghijauan

2026-02-01 23:51:55
PDIP: Natal adalah Awal Penyelamatan, Menjaga Hutan, dan Penghijauan
JAKARTA, - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memaknai Hari Raya Natal 2025 di tengah suasana dampak banjir Sumatera sebagai momen untuk bangkit menyelamatkan alam."Natal adalah awal karya penyelamatan. Merawat pertiwi dengan menjaga hutan, menjaga sungai dan mata air, serta gerakan penghijauan juga bagian dari karya penyelamatan. Sebab alam raya dan manusia adalah satu kesatuan. Semua harus dalam keseimbangan," jelas Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis ..PDIP mengucapkan Selamat Natal 2025 kepada seluruh umat Kristiani yang merayakannya.Hasto Kristiyanto mengatakan Natal adalah karya penyelamatan Allah yang dimulai melalui kelahiran Bayi Kristus secara sederhana dan sarat solidaritas sosial."Semangat Natal sangat relevan di tengah situasi bencana alam yang melanda beberapa wilayah Indonesia," ujar Hasto.Baca juga: Gibran Ucapkan Selamat Hari Natal, Ajak Doakan Korban Banjir SumateraHasto mengatakan, Natal tahun ini dirayakan dalam suasana berbeda.Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera serta beberapa wilayah lainnya di Indonesia yang mengakibatkan korban jiwa dan harta benda."Perayaan Natal DPP PDI Perjuangan akan dilakukan di Tapanuli Tengah. Natal itu keberpihakan, termasuk mereka yang sedang susah akibat bencana alam,” kata Hasto.Oleh karena itu, Hasto mengajak merapalkan doa untuk warga Indonesia yang tengah terdampak bencana alam, terutama Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.Baca juga: Natal 2025, Uskup Agung Jakarta Ajak Doa Bersama untuk Korban Banjir SumateraHasto mengatakan bencana yang sedang dihadapi ini merupakan ujian yang dapat memperkuat iman dan kesabaran kita."Mari kita jadikan momentum Natal ini untuk berbela rasa, melakukan langkah konkret membantu korban bencana, sambil menggelorakan harapan dengan bergotong royong dan mempercepat rehabilitasi seluruh fasilitas fisik," ucap Hasto.Dia menambahkan, partainya menurunkan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP bersama tim medis dan bantuan kemanusiaan yang diturunkan di sejumlah wilayah.Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri pun langsung memberikan arahan Baguna menyediakan dapur umum yang bisa dimanfaatkan semua pihak."Siapa pun yang terkena dampak, siapa pun yang butuh makan, dipersilakan untuk makan. Ini tidak ada urusan partai, ini adalah murni urusan kemanusiaan," kata Hasto mengutip arahan Megawati.Belajar dari bencana alam sepanjang 2025, Hasto mengatakan seluruh pemimpin di tingkat pusat dan daerah kembali menunjukkan kepedulian tinggi serta berkomitmen merawat pertiwi dan kelestarian alam demi kesejahteraan dan kebaikan bersama.Salurkan bantuan Anda untuk korban banjir Sumatera lewat tautan kanal donasi di bawah ini:https://kmp.im/BencanaSumatera


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 23:32