SUBANG, - Industri otomotif nasional diproyeksikan akan memasuki fase seleksi pasar dalam dua hingga tiga tahun ke depan.Periode tersebut ditandai dengan berakhirnya insentif kendaraan listrik serta semakin ketatnya kewajiban pendirian pabrik dan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang akan naik menjadi 60 persen pada tahun 2027."Selama ini ada yang masuk dengan model perusahaan cangkang, banting harga luar biasa karena menikmati insentif. Ke depan, model seperti itu tidak bisa lagi jalan,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) di Subang, Jawa Barat, pada Senin .Baca juga: Kebijakan Insentif Kendaraan Listrik Berakhir, Apa Selanjutnya?PIXABAY/MENNO DE JONG Ilustrasi mobil listrik. Menurutnya, ketika insentif mulai dihentikan dan kewajiban produksi lokal diperketat, hanya produsen dengan komitmen investasi nyata yang mampu bertahan.Mereka tidak sekadar menjual produk impor, tetapi juga membangun pabrik sekaligus mengembangkan industri komponen di dalam negeri.“Hanya yang punya komitmen investasi yang benar yang bisa jalan. Dia bangun pabrik, bangun industri parts di sini. Dan itu sekarang sudah mulai dilakukan,” ujarnya.Yannes menilai, kenaikan bertahap ambang batas TKDN akan menjadi ujian berat bagi produsen yang sejak awal tidak menyiapkan strategi jangka panjang.Dalam regulasi yang tertuang pada Perpres 79/2023, TKDN kendaraan listrik produksi lokal wajib mencapai 40 persen pada periode 2022–2026, naik menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan meningkat lagi menjadi 80 persen mulai tahun 2030.Baca juga: Begini Penggunaan AC Mobil yang Benar Saat Perjalanan Jauhdok.TMMIN Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat.“Begitu TKDN-nya naik terus dari 40 ke 60, lalu 80 persen, yang setengah-setengah itu akan berat. Pada titik tertentu, mereka bisa lemas dan hilang dari pasar,” katanya. “Ini akan menjadi seleksi besar-besaran. Yang hanya cangkang akan hilang dengan sendirinya,” tambah Yannes.Di sisi lain, ia melihat peluang Indonesia untuk menjadi pusat produksi regional, terutama untuk pasar kendaraan setir kanan di Asia Tenggara.Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada kekuatan pasar domestik.“PR pertama kita tetap meningkatkan kelas menengah. Kalau middle income class naik, daya beli ikut naik,” ujarnya.Baca juga: Catat, Daftar Nomor Penting yang Perlu Disimpan Saat Mudik NataruMenurut Yannes, pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen menjadi kunci agar pasar otomotif kembali ekspansif.Dengan ekonomi yang lebih kuat, konsumsi kendaraan dinilai akan kembali bergerak.“Kalau ekonomi bisa tembus 5,4 persen lalu naik ke 6 persen, barulah belanja otomotif bisa lebih sehat,” kata dia.
(prf/ega)
Kenaikan TKDN Kendaraan Listrik: Apa Dampaknya?
2026-01-12 05:17:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:37
| 2026-01-12 04:08
| 2026-01-12 03:37
| 2026-01-12 02:59
| 2026-01-12 02:42










































