Berburu Kerja di Pengujung Tahun, Cerita Asep hingga Dedi Jemput Nasib

2026-01-12 08:42:21
Berburu Kerja di Pengujung Tahun, Cerita Asep hingga Dedi Jemput Nasib
BANDUNG, - Mentari pagi baru saja menyembul dari balik perbukitan Parahyangan, menyiramkan semburat jingga yang hangat di atas aspal jalanan Soreang. Namun, gairah kehidupan telah menderu lebih awal di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung, Senin ."Sudah mau akhir tahun, tapi gimana dapur di rumah harus terus ngebul, saya hampir tiap hari didoain ibu supaya bisa dapat kerja tahun ini, ya meskipun tinggal berapa hari lagi masuk tahun baru," ujar Asep (24) dengan suara serak saat ditemui di lokasi Job Fair.Pemuda asal Baleendah dengan kemeja batik yang warnanya mulai memudar itu berdiri mematung di depan sebuah papan pengumuman.Baginya, setiap detik yang berdetak di sisa kalender tahun ini adalah derap langkah yang mengejar ketertinggalan ekonomi keluarganya yang kian terimpit.Ia telah menyusuri setiap jengkal booth perusahaan, menyodorkan riwayat hidupnya bagai menyodorkan doa ke haribaan semesta."Ya harus dicoba semuanya, ibarat mancing umpannya saya coba ke semua, semoga akhir tahun ini saya beruntung," kata Asep sambil kembali memindai kode QR di salah satu stan perusahaan distribusi.Baca juga: Job Fair Indramayu Membludak, Ibu Hamil Ini Titip Doa untuk SuaminyaTak jauh dari sana, Siti (22), seorang sarjana muda dari Ciwidey, tampak sibuk membetulkan letak jilbabnya yang tersenggol massa yang merangsek maju demi mendekati meja registrasi.Di tangannya, sebuah gawai pintar terus menyala menampilkan kode QR yang harus dipindai."Gimana ya lulus belum dapat kerja jadi pertanyaan juga, di kampung mah saya ditanyai terus biar cepat dapet kerja," ucap Siti.Perjuangan Siti bukanlah perkara mudah. Ia harus menyisihkan uang dari hasil berjualan gorengan di sore hari hanya demi ongkos angkutan umum menuju lokasi ini. Baginya, setiap rupiah yang ia keluarkan adalah investasi dari harapan yang paling tulus."Kata teman-teman yang sudah kerja ya harus cekatan dalam urusan komunikasi," katanya saat berdiskusi dengan petugas rekrutmen.Baca juga: Anak Perempuannya Cari Kerja di Job Fair Indramayu, Rina: Jangan Nyerah, Nanti Ada RezekinyaDi sudut lain, terlihat Dedi (28), pria asal Majalaya yang baru saja kehilangan pekerjaan akibat efisiensi pabrik tekstil beberapa bulan silam.Wajahnya yang legam terpapar matahari menyimpan guratan kecemasan tentang hari esok, tentang cicilan yang menumpuk dan tangis bayi yang butuh susu."Ya meskipun umur banyak yang enggak sesuai tapi saya tetap ikhtiar saja, karena ada yang harus dihidupkan di rumah," ujarnya sambil tersenyum.Dedi dengan sabar mengantre di perusahaan manufaktur, sesekali menyeka peluh di dahi dengan punggung tangannya yang kasar.


(prf/ega)