Emma Stone Jadi Wanita Tercantik di Dunia Versi Golden Ratio, Ungguli Zendaya dan Beyonce

2026-01-16 12:28:14
Emma Stone Jadi Wanita Tercantik di Dunia Versi Golden Ratio, Ungguli Zendaya dan Beyonce
– Aktris Emma Stone dinobatkan sebagai wanita tercantik di dunia berdasarkan studi yang menerapkan Golden Ratio (rasio emas), rumus matematika dari Yunani kuno yang mengukur proporsi dan simetri wajah. Dalam analisis tersebut, Stone meraih skor 94,72 persen dan menempati posisi teratas, mengungguli sejumlah selebritas dunia seperti Zendaya dan Beyoncé.Penilaian dilakukan menggunakan pemetaan wajah terkomputerisasi yang mengukur detail seperti posisi mata, bibir, dahi, hingga garis rahang. Hasilnya menunjukkan bahwa proporsi wajah Stone dianggap paling mendekati angka ideal Golden Ratio atau Phi, yaitu 1,618.Baca juga: Menurut Sains, Amber Heard Miliki Wajah Tercantik di Dunia“Emma Stone adalah pemenang yang paling jelas ketika semua elemen wajah diukur untuk menilai kesempurnaan fisik,” ujar dr. Julian De Silva dari Centre for Advanced Facial Cosmetic and Plastic Surgery di London, melansir Daily Mail. “Ia menunjukkan konsistensi yang baik di seluruh kategori, bukan hanya unggul pada satu fitur tertentu,” tambah dr. Julian De Silva.Aktris berusia 37 tahun ini dinilai unggul berkat pencapaian tinggi pada sejumlah aspek wajah, termasuk garis rahang yang memperoleh nilai 97 persen, bibir 95,6 persen, serta bentuk alis 94,2 persen. Konsistensi proporsi ini membuatnya menempati posisi pertama dalam studi tersebut.Posisi Stone disusul Zendaya yang menempati peringkat kedua dengan skor 94,37 persen.Zendaya meraih nilai sangat tinggi pada beberapa bagian wajah, di antaranya bibir 99,5 persen, mata 97,3 persen, dan dahi (98 persen).Namun, sedikit perbedaan pada posisi hidung dan bibir membuatnya terpaut tipis dari Stone.Di bawah Zendaya, terdapat Freida Pinto dengan skor 94,34 persen, kemudian Vanessa Kirby yang memperoleh 94,31 persen. Jenna Ortega juga masuk daftar melalui skor dahi tertinggi yakni 99,6 persen, meski penilaian bentuk wajahnya berada di posisi lebih rendah. Olivia Rodrigo, Aishwarya Rai Bachchan, dan Tang Wei turut masuk dalam daftar, sementara Beyoncé melengkapi posisi sepuluh besar dengan skor 92,4 persen.Baca juga: Perankan Cruella, Emma Stone Ganti Kostum hingga 47 KaliGolden Ratio atau Phi merupakan konsep matematika kuno yang telah digunakan selama berabad-abad, termasuk oleh seniman Renaisans, Leonardo da Vinci dalam karya Vitruvian Man.Dalam konteks wajah, rumus ini mengukur berbagai rasio, seperti jarak dari garis rambut ke mata, dari mata ke bawah hidung, dan dari bawah hidung ke dagu. Simetri dan proporsi keseluruhan wajah juga menjadi bagian dari analisis.Prinsip Rasio Emas beranggapan bahwa proporsi wajah atau tubuh yang mendekati angka 1,618 (Phi) dianggap lebih ideal dan karenanya dipersepsikan lebih cantik.Baca juga: 10 Fakta Andrea Brillantes, yang Mengalahkan Jisoo sebagai Wajah Tercantik 2024


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-16 10:25