TAPANULI TENGAH, - Warga terdampak banjir bandang dan longsor di Kelurahan Sibuluan Terpadu, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, mulai mengeluhkan krisis air bersih yang memicu berbagai penyakit.Memasuki hari ke-12 pascabencana, warga yang bermukim di area pedalaman seperti Desa Tukka mengaku belum tersentuh distribusi bantuan air bersih.Salah satu warga Desa Tukka, Torang Limbong menyebut hal ini kontras dengan kondisi di jalan protokol yang rutin dilalui truk tangki air."Kami ingin sekali maunya ada layanan air seperti dari PAM. Karena kalau kami lihat di jalan protokol sana, Jalan Sidimpuan, itu ada mobil-mobil tangki yang melayani air minum," ujar Torang saat ditemui di Pos Layanan Kesehatan Baznas, Sabtu .Baca juga: Kayu Dulu, Baru Air, Kesaksian Mencekam Warga Garoga Saat Desa Diratakan Banjir Bandang TapselTorang pun mengungkapkan kekecewaannya karena akses air bersih yang tidak merata dan hanya terfokus di pusat daerah."Ternyata kami yang agak di pedalaman ini tidak ada layanan air minum, sehingga kami sangat kewalahan," kata dia.Ketiadaan air bersih ini membuat warga kesulitan membersihkan sisa lumpur tebal yang masih mengendap di dalam rumah."Lumpur-lumpur di dalam rumah masih terkurung di situ. Karena mau kami bersihkan, air tidak ada," kata Torang.Lebih parah lagi, minimnya asupan air minum membuat kondisi fisik pengungsi semakin rentan terserang penyakit."Kami mungkin semakin mudah nanti terserang penyakit karena kurang minum. Jadi untuk ini kami mohon juga kiranya pemerintah menyediakan juga air minum untuk kami yang ada di pedalaman ini," ujar Torang.Baca juga: Belum Ada Sinyal di Sibolga, Baznas Hadirkan Starlink di Posko Pengungsi BencanaKeluhan warga tersebut dikonfirmasi oleh temuan tim medis di lapangan.Dokter tim layanan kesehatan Baznas Tapanuli Tengah, dr Rizky Harahap membenarkan bahwa kualitas dan ketersediaan air yang buruk menjadi penyebab utama munculnya gangguan pencernaan pada pengungsi."Masyarakat di sini pada down. Jadi lemas, terus banyak yang kayak tadi ada yang diare serta muntah," kata Rizky."Diare karena mungkin pasokan air, airnya belum baik ya," ucap dia. Selain diare, Rizky menyebutkan penyakit kulit menjadi keluhan yang paling mendominasi akibat aktivitas di dalam air banjir yang kotor."Tadi kebetulan yang banyak datang ke sini warga-warga di Sibuluan ini dengan keluhan karena banjir. Jadi banyak yang gatal-gatal, banyak yang kena kutu air," kata dia. Merespons kondisi tersebut, Baznas Kabupaten Tapanuli Tengah menyebut akan segera menyiapkan bantuan lanjutan berupa pasokan air bersih."Nah, dari sini juga kan kita jadi melinat, bertemu langsung, apa kebutuhan warga sebenarnya. Insyaallah kami usahakan untuk menghadirkan air bersih juga selanjutnya," tutur Ketua Baznas Tapanuli Tengah, Syahfari Hasibuan."Respons kemanusiaan Baznas akan terus berlanjut dengan mengutamakan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak," ucap dia.
(prf/ega)
Korban Banjir Desa Sibuluan Tapteng Keluhkan Krisis Air Bersih, Dokter: Mereka "Down", Lemas, Diare, Muntah-muntah
2026-01-12 06:55:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:00
| 2026-01-12 06:36
| 2026-01-12 06:19
| 2026-01-12 04:46










































