21 Orang Meninggal Dunia Akibat HIV/AIDS di Lebak Sepanjang 2025

2026-01-17 07:01:55
21 Orang Meninggal Dunia Akibat HIV/AIDS di Lebak Sepanjang 2025
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat ada 498 orang menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) karena menderita penyakit HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, 21 orang dinyatakan meninggal dunia pada tahun ini."Jumlah pasien ODHIV (orang dengan HIV) yang meninggal ada 21 orang dari 498 yang memulai pengobatan ARV," kata Plt Dinas Kesehatan Lebak, Endang Komarudin, Rabu .Secara keseluruhan, ada 808 orang di Lebak mengidap HIV/AIDS. Angka itu merupakan jumlah kumulatif dari 2019.Jumlah kematian penderita HIV di Lebak tahun ini juga mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Endang mengungkapkan, pada 2024, ada 18 pasien yang meninggal dunia."Tahun 2024 meninggal ada 12 sesudah pengobatan ARV, dan 6 meninggal sebelum pengobatan ARV. Total meninggal 2024 ada 18," katanya.Endang mengatakan penderita penyakit menular ini didominasi usia 20-29 tahun, yang berjumlah 37 orang. Sedangkan usia 30-39 tahun berjumlah 34 orang.Dia menjelaskan penyebaran kasus ini terjadi karena adanya seks bebas. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh posisi Kabupaten Lebak yang berdekatan dengan wilayah Kota Jakarta."Itu banyaknya dari seks bebas," katanya.Endang mengaku terus berupaya untuk menekan penyebaran kasus. Menurut dia, Dinkes Lebak melakukan edukasi ke sekolah untuk menghindari seks bebas."Melakukan edukasi kepada anak sekolah, hindari seks bebas," pungkasnya.Lihat juga Video: Siapa 'Sister Hong' yang Tularkan Virus HIV ke Ribuan Pria di China[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-17 05:12