Ketika Kelas Tak Lagi Mengajar

2026-02-01 18:56:58
Ketika Kelas Tak Lagi Mengajar
KELAS seharusnya menjadi ruang tempat makna tumbuh-tempat nalar diasah, rasa ingin tahu dipelihara, dan pengetahuan diberi konteks kehidupan.Namun, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Nasional 2025 menghadirkan kegelisahan yang sulit diabaikan.Rata-rata Matematika yang berhenti di angka 36,10 dan Bahasa Inggris di 24,93 bukan sekadar rapor akademik, melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang keliru dalam cara kita mengelola pendidikan.Di tengah berbagai agenda reformasi, ruang kelas justru makin jauh dari fungsi dasarnya sebagai ruang belajar yang bermakna.Angka-angka tersebut tidak lahir di ruang hampa. Ia merupakan akumulasi dari persoalan struktural yang telah lama mengendap: kurikulum yang gemar berganti wajah, guru yang kian terbelenggu administrasi, serta kebijakan evaluasi yang inkonsisten hingga melahirkan sikap apatis di kalangan siswa.Salah satu penyakit kronis pendidikan Indonesia adalah obsesi pada perubahan nomenklatur kurikulum.Baca juga: Martabat Dosen dan Ujian Negara HukumHampir setiap pergantian kepemimpinan di kementerian diikuti perubahan istilah dari Kompetensi Inti ke Capaian Pembelajaran, dari RPP ke Modul Ajar. Namun, perubahan tersebut lebih sering menyentuh aspek administratif ketimbang substansi pedagogis.Fenomena ini dikenal sebagai innovation fatigue, kelelahan akibat inovasi yang terlalu sering dan dangkal.Guru dan siswa dipaksa beradaptasi dengan format baru sebelum sempat mendalami yang lama. Kurikulum berganti baju di tengah badai, tetapi jantung pembelajaran tetap rapuh.Dalam perspektif konstruktivisme, sebagaimana ditegaskan Lev Vygotsky, belajar hanya bermakna jika terjadi interaksi sosial yang mendorong penalaran dalam Zone of Proximal Development.Ketika kurikulum lebih sibuk mengatur format dan pelaporan ketimbang memfasilitasi dialog, eksplorasi, dan bimbingan konseptual, proses belajar kehilangan daya hidupnya.Kurikulum yang terus berubah membawa dampak sistemik pada guru. Konsep teacher agency, otonomi guru untuk menerjemahkan kurikulum sesuai konteks kelas semakin menyempit akibat beban administrasi digital yang menumpuk.Berbagai laporan dan survei internasional menunjukkan bahwa beban administratif guru di Indonesia tergolong tinggi.Survei OECD melalui TALIS (Teaching and Learning International Survey) mencatat bahwa guru di Indonesia menghabiskan waktu signifikan untuk tugas non-pengajaran, termasuk pelaporan administratif, dibandingkan dengan banyak negara lain.Temuan ini sejalan dengan berbagai studi dan laporan lapangan di dalam negeri yang menunjukkan bahwa porsi waktu guru untuk urusan administratif dapat mencapai hampir separuh jam kerjanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-02-01 18:48