JAKARTA, - Lanskap bisnis ritel di Jabodetabek sedang mengalami pergeseran tektonik.Jika beberapa dekade lalu mal-mal raksasa menjadi magnet utama, kini muncul tren baru yang menunjuk pada kebangkitan format ritel yang lebih personal dan terdesentralisasi yakni ritel stand-alone dan rumah toko (ruko).Menurut Managing Director CBRE Indonesia, Angela Wibawa, pandemi Covid-19 telah secara fundamental mengubah preferensi konsumen dan strategi ekspansi ritel. Baca juga: Masa Depan Mal Bukan Lagi Soal Transaksi, Tapi Selfie dan Ngopi"Tren yang kami lihat adalah pergeseran ke arah ritel stand-alone yang lebih strategis dan mudah dijangkau, serta fokus pada ruko sebagai opsi yang lebih fleksibel," ujar Angela menjawab Kompas.com.Senior Director, Co-Head, Office Services, Indonesia, Albert Dwiyanto menambahkan, penyewa ritel kini mencari lokasi yang menawarkan biaya operasional yang lebih efisien dan dapat berinteraksi langsung dengan komunitas lokal tanpa terbebani biaya sewa mal yang tinggi.Pergeseran ini terlihat jelas dari data pasokan mal. Berdasarkan laporan CBRE, luas mal sewa dengan Nett Leasable Area (NLA) di Jabodetabek telah mencapai lebih dari 5,5 juta meter persegi.Angka ini menunjukkan suplai yang masif. Namun, di tengah ekspansi ini, tingkat kekosongan (vacancy rate) di beberapa mal, terutama yang berskala menengah atau di lokasi kurang strategis, cenderung meningkat pasca-pandemi."Ini menciptakan tekanan pada pendapatan sewa dan memaksa pengelola mal untuk beradaptasi," cetus Angela.Baca juga: 5 Mal Terbesar di Dunia, Adakah dari Jakarta?Nah, terkait fenomena ini, ritel stand alone punya peluang untuk terus berkembang Eiring dengan perubahan preferensi dan pola belanja konsumen.Ada beberapa faktor kunci yang mendorong optimisme terhadap format ritel stand-alone dan ruko.Faktor kedekatan, karena pandemi mengajarkan konsumen untuk mengutamakan kedekatan dan kenyamanan.Ritel stand-alone dan ruko yang berlokasi di area residensial atau mixed-use yang padat dapat melayani kebutuhan harian dan gaya hidup masyarakat secara langsung, meminimalkan perjalanan jauh.Bagi peritel, biaya sewa di mal-mal besar, ditambah biaya servis, promosi, dan fit-out, bisa sangat membebani.Baca juga: Mal Bergaya New York Ramaikan Gading Serpong, Investasi Rp 350 MiliarSementara ruko menawarkan biaya operasional yang lebih rendah dan fleksibilitas yang lebih besar dalam desain interior dan jam operasional.Ruko memberikan kebebasan bagi brand untuk menciptakan identitas visual dan pengalaman pelanggan yang unik tanpa harus terikat dengan guideline desain mal.
(prf/ega)
Ritel Stand Alone Bakal Meledak, Saatnya Berburu Ruko?
2026-01-10 09:35:44
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-10 09:38
| 2026-01-10 09:23
| 2026-01-10 09:11
| 2026-01-10 08:40
| 2026-01-10 07:37










































