Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Coba Hindari 2 Kata Ini agar Sukses

2026-01-12 03:04:51
Resolusi Tahun Baru Sering Gagal? Coba Hindari 2 Kata Ini agar Sukses
- Pesan “Tahun Baru, Diri Baru” sedang berseliweran di mana-mana. Di media sosial, iklan program olahraga dan diet mulai bermunculan, sementara obrolan dengan rekan kerja berubah jadi cerita siapa yang niat melakukan perubahan, atau siapa yang akhirnya berhasil konsisten melakukannya.Masalahnya, kebanyakan resolusi Tahun Baru cuma bertahan sebentar. Banyak dari kita sudah menyerah bahkan sebelum pertengahan Januari.Tapi tahun ini bisa saja berbeda. Sejumlah ahli berbagi tips soal cara bikin resolusi yang lebih realistis dan yang paling penting, bisa dijalanin sampai akhir.Baca juga: Faktor Ekonomi Jadi Penghambat Pendidikan, Pentingnya Rencana KeuanganAkankah tahun 2026 menjadi tahun di mana kita akan "menurunkan berat badan", "mengubah karier", atau "beli rumah"?Hati-hati, menurut Dr Claire Kaye, seorang confidence coach, target seperti itu sebenarnya bukan rencana yang bisa langsung dijalani, melainkan tekanan buat diri sendiri.Resolusi seringkali gagal karena tidak jelas, tidak realistis, dan terlalu luas, katanya.Ia menyarankan untuk menuliskan apa yang berjalan baik dalam hidup kita, apa yang menguras energi, atau tidak lagi sesuai, dan di mana kita menjalankan hidup secara otomatis."Ketika Anda memahami apa yang lebih diinginkan, bukan hanya apa yang ingin dihindari, perubahan menjadi jauh lebih berkelanjutan," katanya.Tuliskan tujuan dengan fokus pada arah dan pengalaman daripada titik tetap. Ia menyarankan agar "Menurunkan berat badan" dapat diubah menjadi: "Saya ingin merasa lebih berenergi dan nyaman dengan tubuh saya, dan memahami apa yang membantu saya merasa seperti itu."Baca juga: Lulus Saat Dunia Kerja Tak Pasti? Ini Tips Membangun KarierFreepik Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang betah di zona nyaman.Hal lain yang perlu dihindari saat menuliskan resolusi adalah bahasa yang kaku seperti "selalu" atau "tidak pernah". Menurut psikolog Kimberly Wilson, dua kata itu menciptakan pendekatan serba atau tidak sama sekali yang sangat sulit untuk dipatuhi.Berjanji pada diri sendiri "Saya akan selalu lari pada hari Rabu" atau "Saya tidak akan pernah minum manis lagi" hanya akan membuat kita gagal."Contoh klasiknya adalah tentang diet atau olahraga, dan orang-orang berpikir bahwa jika mereka gagal satu hari, maka semuanya menjadi sia-sia," katanya kepada podcast BBC What's Up Doc.Baca juga: Dari Body Shaming Rita Sukses Capai Berat Badan Ideal Tanpa Olahraga Ia mengatakan orang seringkali mengembangkan pandangan sempit, menilai satu pilihan secara terpisah, padahal yang dibutuhkan adalah perspektif yang lebih luas yang menempatkan satu momen dalam konteks banyak momen lainnya.Dr. Kaye mengatakan tujuan harus ditulis dengan frasa yang fleksibel seperti "Saya ingin bereksperimen dengan", "Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang untuk", atau "Saya sedang mempelajari apa yang cocok untuk saya".


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Lebih lanjut, Purwadi menyampaikan arahan terkait reformasi birokrasi dari Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan birokrasi harus semakin responsif dan tidak mempersulit masyarakat.Birokrasi juga diminta memiliki komitmen yang kuat terhadap efektivitas alokasi anggaran dan pemberantasan korupsi serta kebocoran anggaran.“Sebab, tanpa integritas, tidak mungkin kita membangun birokrasi yang dipercaya publik,” ungkapnya. Baca juga: Menteri PANRB Rini Raih Penghargaan Adibhakti Sanapati 2025 dari BSSNPerlu diketahui, mulai 2023, Kementerian PANRB mendorong pelaksanaan evaluasi Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) Mandiri di sejumlah kementerian/lembaga.Sampai saat ini, penilaian tersebut diperluas pada 19 kementerian/lembaga (K/L) dan lima pemerintah provinsi termasuk Mahkamah Agung (MA).Purwadi juga memberikan apresiasi kepada MA yang telah menunjukkan upaya memperkuat integritas ke tahap yang lebih matang. “Capaian ini merupakan buah dari kerja keras, komitmen dan keteladanan dalam menjaga integritas serta meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat,” katanya.Dia menyampaikan, untuk menjaga keberlanjutan reformasi birokrasi, diperlukan upaya untuk memastikan langkah-langkah ke depan berjalan dengan konsisten, menyeluruh, dan semakin berdampak.Baca juga: Menteri PANRB Dukung Badan Narkotika Nasional Akselerasi Program P4GNPertama, pembangunan zona integritas harus terus diperluas. Kedua, pemanfaatan digitalisasi proses peradilan perlu ditingkatkan. Ketiga, memperkuat mekanisme pengawasan dan pencegahan korupsi. Keempat, kualitas sumber daya manusia (SDM) peradilan harus terus ditingkatkan secara berkelanjutan serta perlu kolaborasi yang berkelanjutan.Prestasi tersebut bukan hanya untuk keberhasilan administratif, tetapi wujud inspirasi bagi satuan kerja lain untuk terus melakukan perbaikan dan memperkuat budaya kerja yang berkualitas.“Saya berharap, upaya ini menjadi pemicu bagi lahirnya lebih banyak perubahan konkret yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya. Baca juga: Target Penempatan 500.000 PMI pada 2026, Menteri PANRB Siap Dukung Penguatan Kelembagaan Kementerian P2MI

| 2026-01-12 02:40