Tambang di Kaki Gunung Slamet Merusak Sawah dan Kolam, Warga: Air Melimpah Tapi Ikan Mati

2026-01-12 05:03:58
Tambang di Kaki Gunung Slamet Merusak Sawah dan Kolam, Warga: Air Melimpah Tapi Ikan Mati
BANYUMAS, - Warga merasakan dampak negatif dari aktivitas penambangan di kaki Gunung Slamet kerena membuat sawah dan kolam ikan rusak.Padahal wilayah tersebut memiliki air melimpah tetapi ikan malah mati. Puluhan massa dari berbagai elemen peduli lingkungan yang tergabung dalam Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional menggelar aksi demonstrasi di gedung DPRD Banyumas, Selasa .Mereka menuntut agar kegiatan penambangan batu granit di kaki Gunung Slamet tepatnya di Bukit Jenar, Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng ditutup.Aksi diawali dengan menggelar orasi di depan gedung DPRD sambil membawa berbagai spanduk. Salah satunya bertuliskan: "Kami Tidak Takut PKH, BLT, Dicabut Pak Kades, tapi Lebih Takut Tanah Longsor Menimbun Desa Baseh".Perwakilan warga Desa Baseh yang tergabung dalam Musyawarah Masyarakat Baseh (Murba), Budi Tartanto, mengatakan, kegiatan penambangan telah berlangsung sekitar empat tahun dan menimbulkan dampak negatif.Baca juga: Lereng Gunung Slamet Jadi Cokelat Usai Eksplorasi PLTP, Butuh Penghijauan 28 Ribu Pohon"Lahan pertanian seluas 24 hektar terkena material dari penambangan sehingga terjadi penurunan hasil pangan. Kemudian 19 kolam ikan yang dikelola pemuda rusak. Ini ironis sekali, di wilayah yang airnya berlimpah, tapi ikannya mati," kata Budi di sela aksi.Warga juga khawatir terjadi longsor saat hujan deras yang membawa material tanah bercampur kerikil dari lokasi penambangan bisa membanjiri jalan desa."Setiap hujan kami waswas, di situ tempatnya mengerikan. Saya punya anak kecil, setiap hujan kepikiran jangan-jangan ada longsor. Jadi, tak ada alasan apapun, tambang harus ditutup permanen. Tidak ada pihak yang bisa menjamin tempat kami tidak ada bencana," ujar Budi.Baca juga: Gubernur Ahmad Luthfi Kerahkan Satgas Tangani Masalah Penambangan di Lereng Gunung SlametAtas kondisi ini, warga menyuarakan tuntutan tegas.Meminta aktivitas penambangan yang terbukti menimbulkan masalah lingkungan dan sosial, menyebabkan polusi, tidak mematuhi peraturan, serta melaksanakan praktik penambangan yang tidak bertanggung jawab agar ditutup permanen.Penutupan secara permanen dianggap sebagai bukti pemerintah serius mencegah kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang lebih parah.Warga juga mendesak pihak perusahaan melakukan pembenahan atau normalisasi keberadaan sawah dan kolam yang tertimbun pasir, kerikil, dan batu.Selain itu, juga menuntut ganti rugi pada petani atas kerusakan dan penurunan hasil produksi.Serta kolam ikan yang tidak bisa berproduksi lagi karena dipenuhi lumpur hasil pertambangan.Baca juga: Viral Citra Satelit Gunung Slamet, Pemkab Banyumas Akui Dampak Eksplorasi PLTP


(prf/ega)