Siasat Licik Oligarki Merampok Tanah (Bagian II)

2026-01-12 06:36:23
Siasat Licik Oligarki Merampok Tanah (Bagian II)
ADA jejak para oligarki ekonomi busuk (serakahnomik), khususnya yang bergerak di sektor properti (real estate). Mereka ingin kaya raya tanpa berbuat dan berinvestasi banyak.Mereka mengumpulkan kekayaan dengan tabiat tuna akhlak, menginjak-injak rakyat yang tak berdaya, mengibuli negara, memperdayai hukum dan bersekongkol dengan aparat tak tahu malu.Caranya, cukup dengan kemampuan meyakinkan semua orang bahwa mereka adalah investor besar yang datang ke daerah untuk meningkatkan ekonomi rakyat, memompa potensi daerah, mendorong kemajuan, dan memberantas kemiskinan.Segala janji fatamorgana dihidangkan di depan para pemimpin daerah, terutama gubernur dan bupati/wali kota.Para oligarki yang haus dan rakus harta itu, disambut bagai pahlawan. Perjanjian antara para oligarki dengan gubernur/bupati/wali kota pun ditandatangani.Pihak Pemda membantu dan memberi konsesi dan hak-hak Istimewa membeli tanah. Tentu saja bantuan Pemda tersebut, disertai prasyarat.Misalnya, oligarki tersebut harus membangun fasilitas turisme dengan segala infrastruktur pendukungnya, selain, tentu saja, properti yang memang menjadi tujuan utama oligarki.Baca juga: Siasat Licik Oligarki Merampok Tanah (Bagian I)Bagaimana mengeksekusi program yang penuh janji ini?Pemda dan oligarki membentuk perusahaan bersama. Pemda pun diberi saham dalam perusahaan yang dibentuk itu.Oligarki membentuk perusahaan khusus yang mewakili dirinya dalam perusahaan yang dibentuk bersama Pemda tersebut.Dasar perangai licik, oligarki menjadikan perusahaan bersama tersebut menjadi perusahaan terbuka. Maka, pemilik saham perusahaan tersebut menjadi Pemda, oligarki, dan publik.Namun tahukah Anda, saham publik tersebut, ternyata hanya sedikit sekali. Saham-saham yang dilebel sebagai saham publik tersebut juga milik oligarki tadi.Oligarki tersebut memobilisasi orang-orangnya sendiri atau afiliasinya, yang dimodalinya sendiri untuk memborong saham-saham publik.Dengan demikian, sang oligarki sejatinya menjadi pemegang saham mayoritas dan mutlak. Berarti, segala arah, perencanaan bisnis, managemen perusahaan di bawah kontrol oligarki. Pemda hanya berdiri bagai patung belaka dalam perusahaan tersebut.Namun, masa bulan madu antara oligarki dengan Pemda tidak berlangsung lama. Pelan-pelan tetapi meyakinkan, saham-saham Pemda terdelusi secara sistematis. Alasan oligarki, selalu klasik: “Pemda tidak mampu menyuntikkan dana.” Sadis kan?


(prf/ega)

Berita Terpopuler