Dikira Aman, Foto Photobooth Ternyata Bisa Diintip Hacker

2026-02-02 09:46:25
Dikira Aman, Foto Photobooth Ternyata Bisa Diintip Hacker
Ringkasan Berita:  - Foto di photobooth kerap dianggap aman karena langsung dicetak dan dibawa pulang sebagai kenangan.Banyak orang mengira momen tersebut bersifat privat dan tidak tersimpan di mana pun setelah proses cetak selesai. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar, terutama di era digital ketika hampir semua layanan terhubung dengan sistem daring.Dilansir dari laman Forbes, peneliti keamanan siber menemukan bahwa sebagian layanan photobooth menyimpan foto pengguna sementara di server mereka.Celah keamanan pada sistem tersebut berpotensi dimanfaatkan peretas untuk mengakses ribuan gambar pelanggan tanpa sepengetahuan pemiliknya.Perlu dicatat, temuan ini terjadi pada layanan photobooth yang beroperasi di Amerika Serikat, Australia, dan Uni Emirat Arab.Kondisi ini menimbulkan risiko kebocoran data visual pribadi dan memicu kekhawatiran baru terkait perlindungan privasi pengguna.Lantas, bagaimana foto yang seharusnya bersifat privat tersebut bisa tersimpan dan diakses pihak lain, serta sejauh mana risiko yang mungkin dihadapi pengguna? Berikut ini uraian penjelasannya.Baca juga: 20 Prompt Gemini AI Foto dengan Nuansa Golden Hour yang EstetikPeneliti keamanan siber menemukan bahwa foto pengguna dapat tersimpan sementara di server penyedia layanan dan berpotensi diakses pihak tidak berwenang.Kasus ini pertama kali diungkap oleh jurnalis keamanan siber TechCrunch, Lorenzo Franceschi-Bicchierai. Seorang peneliti keamanan menemukan celah pada sistem milik vendor photobooth Hama Film, yang beroperasi di Amerika Serikat, Australia, dan Uni Emirat Arab.Celah tersebut berasal dari situs web tempat foto pelanggan disimpan sementara sebelum dicetak. Menurut laporan TechCrunch, peneliti keamanan dengan nama samaran Zeacer membagikan sampel foto yang dapat diakses melalui celah tersebut.Foto-foto itu memperlihatkan pelanggan yang sedang berpose di photobooth tanpa sensor dan tanpa sepengetahuan pemilik foto. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun hasil akhirnya berupa cetakan fisik, foto tetap diunggah ke server perusahaan.Pihak peneliti menyebutkan bahwa sebelumnya foto-foto pelanggan bisa tersimpan selama dua hingga tiga minggu. Setelah temuan ini dilaporkan, vendor disebut mengubah kebijakan penyimpanan dengan menghapus foto dalam waktu 24 jam.Meski demikian, para peneliti menilai rentang waktu tersebut masih menyisakan risiko karena foto tetap dapat diakses selama tersimpan di server.Kasus ini menjadi pengingat bahwa layanan berbasis perangkat fisik sekalipun tetap memiliki risiko keamanan digital, terutama ketika terhubung dengan sistem penyimpanan daring.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-02 07:25