17.593 Penumpang Melintas di Terminal Arya Wiraraja Sumenep Selama Libur Nataru

2026-01-16 23:04:53
17.593 Penumpang Melintas di Terminal Arya Wiraraja Sumenep Selama Libur Nataru
SUMENEP, - Aktivitas penumpang di Terminal Arya Wiraraja Sumenep, Jawa Timur, meningkat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.Tercatat sebanyak 17.593 penumpang keluar dan masuk Terminal Arya Wiraraja hingga 28 Desember 2025.Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah hingga 4 Januari 2026, seiring arus balik usai libur panjang.Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Arya Wiraraja Sumenep, Handoko Imam Hanafi mengatakan, dari total pergerakan penumpang itu, sebanyak 9.046 orang merupakan penumpang yang datang ke Sumenep. Sedangkan penumpang yang berangkat tercatat sebanyak 8.547 orang.“Selama Nataru ini, penumpang yang datang sampai saat ini sekitar sembilan ribuan dan yang berangkat delapan ribu lebih,” kata Imam kepada Kompas.com di Sumenep, Selasa .Baca juga: Libur Nataru, 4.901 Penumpang dan Ratusan Kendaraan Melintas di Pelabuhan Kalianget SumenepMenurut Imam, jika dirata-rata jumlah penumpang yang melintas di Terminal Arya Wiraraja setiap hari mencapai sekitar 650 orang.“Kalau dirata-rata per hari sekitar 650 orang, tapi dua hari terakhir penumpang berangkat sudah menyentuh 800 orang,” ujarnya.Untuk melayani lonjakan penumpang tersebut, pengelola terminal menyiapkan ratusan armada bus selama masa libur Nataru.Imam menyebut, armada yang disiapkan terdiri dari bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKPD).“Armada AKAP kami siapkan sekitar 100 unit, sementara AKDP sekitar 200 unit selama Nataru ini,” katanya.Baca juga: Liburan Tahun Baru, Pemkab Sumenep Tak Izinkan Pejabat Pakai Kendaraan DinasSelain menyiapkan armada, pihak terminal juga memastikan seluruh kendaraan yang beroperasi dalam kondisi layak jalan.Pemeriksaan dilakukan secara rutin, baik kelengkapan surat maupun kondisi fisik kendaraan.“Tidak ada masalah, semuanya laik jalan, KIR hidup semua dan sesuai setelah kami cek fisik kendaraannya,” ujar Imam.Meski begitu, petugas masih menemukan beberapa pelanggaran kecil saat pemeriksaan. Pelanggaran tersebut langsung dicatat dan diminta untuk segera dilengkapi oleh pengemudi atau perusahaan bus.“Temuannya hanya pelanggaran kecil, seperti tidak ada kotak P3K di dalam bus,” tandas Imam.Baca juga: Libur Nataru, Penumpang Terminal Arya Wiraraja Sumenep Naik 10–20 Persen


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 21:02