Ethiopia Konfirmasi Wabah Virus Marburg yang Mematikan Mirip Ebola

2026-01-12 18:43:57
Ethiopia Konfirmasi Wabah Virus Marburg yang Mematikan Mirip Ebola
ADDIS ABABA, - Ethiopia telah mengonfirmasi munculnya wabah virus Marburg di wilayah selatan negara itu, menurut pernyataan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) pada Sabtu .Virus Marburg dikenal sebagai salah satu patogen paling mematikan di dunia.Penyakit ini menyebabkan pendarahan hebat, demam, muntah, dan diare, dengan masa inkubasi hingga 21 hari.Baca juga: Uganda Umumkan Berakhirnya Wabah Virus EbolaPenularannya berlangsung melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, serupa dengan Ebola. Tingkat kematian virus ini berada pada kisaran 25 hingga 80 persen.Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi pada Jumat bahwa setidaknya sembilan kasus terdeteksi di Ethiopia selatan.Informasi tersebut muncul dua hari setelah Africa CDC menerima laporan awal mengenai dugaan penyakit hemoragik di wilayah tersebut."Penyakit virus Marburg (MVD) telah dikonfirmasi oleh Laboratorium Referensi Nasional (di Ethiopia)," kata Africa CDC dalam pernyataan tertulis."Investigasi epidemiologi dan analisis laboratorium lebih lanjut sedang berlangsung dan strain virus yang terdeteksi menunjukkan kemiripan dengan yang sebelumnya teridentifikasi di Afrika Timur," demikian dikutip dari AFP.Otoritas kesehatan Ethiopia disebut telah bergerak cepat mengonfirmasi dan mengendalikan wabah di wilayah Jinka.Africa CDC menambahkan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah Ethiopia untuk memastikan respons yang efektif dan menekan risiko penyebaran ke wilayah lain di Afrika Timur.Wabah virus Marburg sebelumnya menewaskan 10 orang di Tanzania pada Januari sebelum berakhir pada Maret. Rwanda juga melaporkan keberhasilan menghentikan epidemi Marburg pertamanya pada Desember 2024, yang mengakibatkan 15 kematian.Baca juga: Wabah Ebola Makin Ganas, Uganda Lockdown 2 DistrikBelum ada vaksin atau antivirus yang disetujui untuk menangani infeksi Marburg. Perawatan seperti rehidrasi oral atau intravena serta penanganan gejala spesifik disebut dapat meningkatkan peluang pasien bertahan hidup.Rwanda tahun lalu telah melakukan uji coba vaksin eksperimental yang dikembangkan Sabin Vaccine Institute berbasis di Amerika Serikat.


(prf/ega)