Kronologi Dokter Anak di Bangka Terjerat Hukum Kasus Pasien Meninggal

2026-02-02 16:46:50
Kronologi Dokter Anak di Bangka Terjerat Hukum Kasus Pasien Meninggal
BANGKA, - Seorang dokter anak berinisial RSA alias Ratna di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, menjalani proses hukum karena diduga lalai dalam penanganan medis yang menyebabkan pasien meninggal dunia.Kasubdit Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung, AKBP M Iqbal Surbakti, mengatakan bahwa berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21 dan tersangka RSA dilimpahkan ke kejaksaan."Hari ini kami laksanakan proses lanjut, yaitu tahap dua berupa penyerahan berkas perkara dan tersangka RSA, juga ada barang bukti," kata Iqbal di Mapolda Bangka Belitung, Kamis .RSA, yang mengenakan rompi oranye, kemudian dibawa ke kantor Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung yang lokasinya bersebelahan dengan Mapolda.Baca juga: Pakai Rompi Oranye, Dokter Anak di Bangka Digiring Polisi ke Kantor JaksaDalam kasus ini, kepolisian mengungkapkan bahwa diduga telah terjadi kealpaan penanganan medis yang menyebabkan kematian pasien di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang.Sebelumnya, polisi telah menerima laporan terkait adanya dugaan tindak pidana kesehatan dalam penanganan medis tersebut.Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan, penyidik akhirnya menetapkan RSA sebagai tersangka berdasarkan barang bukti yang cukup pada pertengahan Juni 2025.RSA merupakan dokter spesialis anak yang menangani pasien laki-laki berusia 10 tahun dengan inisial AR, warga Bangka Tengah.Pasien sempat ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan kondisi lemas dan muntah-muntah, kemudian diserahkan kepada dokter spesialis anak, namun nyawanya tidak tertolong.Sebelumnya, pasien sempat ditangani di klinik dengan diagnosis adanya permasalahan pada jantung.Baca juga: Kasus Pasien Meninggal Diduga karena Malapraktik, Dokter Anak RSUD Depati Hamzah Segera DisidangPasien AR dirujuk ke rumah sakit pada 30 November 2024 dan meninggal dunia pada 2 Desember 2024.Selanjutnya, pada 5 Desember 2024, sebuah kantor hukum mengajukan somasi kepada pihak RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, diduga telah terjadi malapraktik, di mana pasien dengan gejala DBD mendapat suntikan yang berimplikasi pada jantung.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-02 16:38