Belajar dari Bencana di Sumatera, Dedi Mulyadi Tegaskan Komitmen Konservasi Jawa Barat

2026-01-13 00:18:50
Belajar dari Bencana di Sumatera, Dedi Mulyadi Tegaskan Komitmen Konservasi Jawa Barat
BANDUNG, — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya menjaga kawasan konservasi di Jawa Barat.Apalagi melihat bencana ekologis yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera, Jawa Barat harus mulai belajar.Menurut dia, penanaman pohon yang dilakukan berbagai pihak saat ini tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis, melainkan harus menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan lingkungan secara menyeluruh.Baca juga: Kinerja Farhan Selama 9 Bulan Dikritik Para Guru Besar di Bandung, Justru Masih Disayang“Sebenarnya ini bukan sekadar penanaman simbolis. Untuk urusan menanam, petani sudah melakukannya sejak lama. Yang paling utama hari ini adalah pernyataan komitmen bersama,”ujar Dedi, di jumpai di Perkebunan Teh Malabar,  Block Pahlawan, Kecamatan Pangalengan, Selasa .Komitmen tersebut, kata Dedi, melibatkan Pemerintah Daerah Jawa Barat, Kodam III/Siliwangi, Polda Jawa Barat, jajaran perkebunan, serta Perhutani. Seluruh pihak diminta memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga kawasan hulu dan daerah konservasi agar tidak terus mengalami degradasi.Baca juga: 286 Rumah di Bojongsoang Bandung Terima Bantuan Sewa Hunian Selama Musim HujanDedi mengingatkan, Jawa Barat memiliki kemiripan kondisi geografis dengan sejumlah wilayah di Sumatera yang dalam beberapa tahun terakhir dilanda bencana banjir dan longsor.Di wilayah tersebut, banyak kawasan pegunungan yang kehilangan tutupan hutan akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali.“Kita belajar dari bencana yang terjadi di Sumatera. Gunung-gunung menjadi gundul, lereng-lereng berubah menjadi kebun kentang. Akibatnya, sungai mengalami sedimentasi, aliran air menjadi sangat deras, jembatan rusak, lumpur mengalir ke mana-mana, dan pohon-pohon tumbang,” kata Dedi.Baca juga: Bencana Alam Jadi Tantangan Pengamanan Natal-Tahun Baru di Kabupaten BandungMenurut dia, dampak ekologis tersebut tidak boleh terulang di Jawa Barat.Namun, tanda-tanda kerusakan lingkungan mulai tampak, salah satunya melalui karakter banjir yang kini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.“Banjir di Bandung sekarang sudah tidak sama seperti dulu. Salah satu penyebabnya adalah lereng-lereng yang kosong dan tidak tertutup vegetasi dengan baik,” ujarnya.Karena itu, Dedi menekankan agar kegiatan penanaman yang dilakukan oleh PTPN maupun Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat tidak bersifat sementara atau terbatas di satu lokasi.Baca juga: Relokasi Korban Longsor Arjasari, Bupati Bandung Biayai Sewa Kontrakan 3 BulanIa mendorong perubahan pola pengelolaan lahan perkebunan agar lebih selaras dengan prinsip konservasi jangka panjang.Di sisi lain, Dedi memastikan upaya perbaikan lingkungan tidak boleh merugikan masyarakat.Warga yang selama ini menggantungkan hidup sebagai buruh tani tetap harus mendapatkan ruang ekonomi dalam skema pengelolaan baru.“Masyarakat yang biasa bekerja menanam sayuran, mencangkul, dan mengangkut hasil kebun akan kita arahkan terlibat dalam penanaman pohon, tanaman sayuran, dan tanaman keras yang lebih ramah terhadap konservasi,” kata dia.Dengan pendekatan tersebut, Dedi berharap upaya pelestarian lingkungan di Jawa Barat tidak hanya mencegah bencana, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat di kawasan lereng dan hulu sungai.


(prf/ega)