"Saya Menyelamatkannya 17 Tahun Lalu, Kini Dia Menjadi Cahaya Hidupku"

2026-02-05 18:25:56
BEIJING, – Takdir mempertemukan Liu Ximei dengan penyelamatnya dalam cara yang tak pernah ia bayangkan. Selamat dari gempa dahsyat Wenchuan pada 2008, Liu kini menikah dengan tentara yang menariknya keluar dari reruntuhan bangunan 17 tahun silam.Dikutip dari China Daily, Liu merupakan salah satu korban gempa berkekuatan M 8,0 yang mengguncang Provinsi Sichuan. Saat itu, ia masih berusia 10 tahun dan terjebak di bawah puing bangunan dua lantai di wilayah Qingchuan.Baca juga: China Dukung Indonesia Jadi Ketua Dewan HAM PBBNyawanya terselamatkan berkat Liang Zhibin, seorang tentara muda yang kala itu berusia 22 tahun. Bersama rekan-rekannya, Liang menggali reruntuhan selama berjam-jam hingga akhirnya berhasil menarik Liu keluar dalam sebuah proses penyelamatan yang berlangsung dramatis.Setelah peristiwa itu, Liu dan Liang tak pernah bertemu dan kehilangan kontak. Waktu berlalu, masing-masing melanjutkan hidup tanpa mengetahui bahwa jalan mereka kelak akan kembali bersilangan.Pertemuan tak terduga itu terjadi pada 2020 di sebuah restoran di Changsha. Saat makan malam bersama orang tuanya, Liu tanpa sengaja melihat Liang duduk di meja lain.Ibunya yang pertama kali menyadari kemiripan pria tersebut dengan sosok tentara yang pernah menyelamatkan putrinya.Baca juga: Cegah Pria Merokok, Mal di China Pasang Panel Kaca pada Pintu ToiletDari pertemuan singkat itu, keduanya kembali terhubung. Komunikasi pun berlanjut dan perlahan berkembang menjadi hubungan asmara, seiring mereka menemukan kecocokan satu sama lain.Akhir bulan lalu, Liu dan Liang resmi menikah dalam sebuah upacara di Changsha. Keduanya mengenakan busana tradisional China, hanfu, dalam momen yang menandai perjalanan panjang kisah mereka.Liu menegaskan bahwa cintanya kepada Liang tidak berangkat dari rasa balas budi."Saya jatuh cinta padanya bukan karena rasa terima kasih. Selama kebersamaan kami, saya perlahan menyadari bahwa dia adalah seseorang yang bisa saya percayai dalam hidup saya," ujar Liu.Sementara itu, Liang mengaku tak pernah membayangkan bahwa gadis kecil yang pernah ia selamatkan akan menjadi pendamping hidupnya."Sungguh menakjubkan bagaimana takdir bekerja," ungkap Liang."Saya menyelamatkan hidupnya 17 tahun yang lalu dan sekarang dia telah menjadi cahaya hidupku," sambungnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 17:36