Pura-pura Gadis padahal Istri Orang, Cinta Dunia Maya Bersemi Jadi Pemicu Keributan di Kupang

2026-01-12 02:23:16
Pura-pura Gadis padahal Istri Orang, Cinta Dunia Maya Bersemi Jadi Pemicu Keributan di Kupang
KUPANG, – Suasana di Jalan Air Lobang Tiga, Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak tegang akibat perselisihan hubungan asmara, Minggu .“Kesepakatan itu disetujui kedua belah pihak dan dituangkan dalam pernyataan tertulis. Mereka sepakat berdamai,” ujar Kepala Seksi Humas Polres Kupang Kota, Ipda Florensi Ibrahim Lapuisaly, kepada Kompas.com, Senin malam.Keributan ini bermula ketika seorang pria berinisial HK menagih uang yang telah dikirimkannya kepada perempuan berinisial RBB. Keduanya berkenalan melalui Facebook dan menjalin hubungan intens via WhatsApp saat HK bekerja di Papua.Kepada HK, RBB mengaku masih berstatus gadis. Hal ini membuat HK serius ingin meminang RBB hingga mengirimkan uang lebih dari Rp 4.000.000 sebagai bentuk komitmen.Namun, saat HK pulang dari Papua dan mendatangi RBB di Sikumana, ia baru mengetahui bahwa perempuan tersebut ternyata istri sah orang lain.Baca juga: Chat Mesra ke Istri Orang, Nyawa Pria Melayang di ProbolinggoKecewa merasa ditipu, HK menuntut uangnya kembali hingga terjadi cekcok yang meresahkan warga sekitar.Ketua RT setempat, Sadrak Matasina, melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. Bhabinkamtibmas Kelurahan Sikumana, Bripka Marsel Nitte, segera tiba di lokasi untuk memediasi kedua belah pihak.Melalui pendekatan persuasif, emosi kedua pihak perlahan mereda. Dalam dialog kekeluargaan tersebut, akhirnya dicapai kesepakatan damai untuk mengakhiri pertikaian.RBB bersedia mengembalikan sebagian uang sebesar Rp 1.500.000, dan HK menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.Florensi menjelaskan bahwa keributan tersebut murni dipicu persoalan hubungan pribadi dan masalah uang.Langkah cepat aparat di lapangan berhasil meredam potensi konflik yang lebih besar. Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko hubungan yang bermula dari media sosial tanpa kroscek status yang jelas.


(prf/ega)