BEKASI, – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggenjot berbagai teknologi pengolahan sampah untuk menekan ketergantungan pada landfill, salah satunya melalui pembangunan Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.Fasilitas ini digadang-gadang menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan daya tampung lokasi pembuangan sampah terbesar di Indonesia tersebut.RDF Plant diproyeksikan mampu mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif bagi industri, sehingga volume sampah yang berakhir di landfill dapat ditekan.Baca juga: Bantargebang Diprediksi Bertahan 6 Tahun Lagi, BRIN Usulkan Enam StrategiNamun, di tengah antrean truk sampah yang kembali mengular dan kapasitas Bantargebang yang semakin terbatas, para pakar mengingatkan bahwa RDF Plant belum menyentuh akar persoalan pengelolaan sampah Jakarta.Tanpa perubahan mendasar dari hulu hingga hilir, kebijakan berbasis teknologi seperti RDF dinilai berpotensi hanya menjadi solusi jangka pendek atau kebijakan tambal sulam.“Langkah seperti RDF plant dan pemilahan sampah memang bisa menyelesaikan masalah, tetapi itu dalam perspektif jangka pendek,” kata Pengamat Perkotaan Universitas Indonesia (UI) Muh Aziz Muslim, saat dihubungi Kompas.com, Jumat .Antrean panjang truk sampah menuju TPST Bantargebang bukanlah peristiwa baru. Hampir setiap musim hujan atau saat terjadi gangguan operasional, ratusan truk terlihat mengular hingga berjam-jam di akses masuk lokasi pembuangan sampah tersebut.Menurut Aziz, persoalan ini bersifat struktural dan saling terkait.“Kita bisa mencermati bahwa antrean panjang ini tentu disebabkan oleh kuantitas sampah yang juga semakin bertambah,” ujar Aziz.Ia menjelaskan, volume sampah Jakarta terus meningkat dari waktu ke waktu, sementara kapasitas penampungan di Bantargebang sudah tidak lagi mampu mengimbangi laju pertambahan tersebut.Baca juga: Hidup dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Limbah Plastik“Di sisi lain, kapasitas penampungan tempat TPA itu juga sudah tidak lagi bisa menampung volume sampah yang ada di Jakarta,” katanya.Kondisi ini, lanjut Aziz, diperparah oleh infrastruktur pengolahan yang tidak memadai serta perencanaan yang kurang efektif.“Bantargebang ini sudah sangat lama beroperasi dan berkali-kali menimbulkan bencana sampah. Ini menunjukkan kurangnya perencanaan dan pengolahan sampah yang efektif,” ujarnya.Selain persoalan volume, keterbatasan landfill dan infrastruktur yang rusak turut memperumit situasi. Jalan menuju TPST Bantargebang kerap dikeluhkan sopir truk karena berlubang dan memperlambat distribusi sampah.“Kondisi ini membutuhkan skenario yang jelas. Kapasitas landfill terbatas, infrastruktur rusak, mau tidak mau harus ada intervensi dari hulu sampai hilir,” kata Aziz.Ia menekankan penanganan sampah tidak bisa lagi berfokus di ujung atau hilir saja.“Dari hulu, bagaimana sampah rumah tangga dan industri itu bisa diminimalisir sejak awal,” ujarnya.Prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dinilai menjadi kunci untuk meringankan beban TPST Bantargebang.
(prf/ega)
Pakar Ingatkan RDF Plant Bukan Solusi Jangka Panjang Krisis Sampah Jakarta
2026-01-12 08:44:21
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 09:31
| 2026-01-12 08:49
| 2026-01-12 08:43
| 2026-01-12 07:07










































