Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak

2026-02-05 06:00:51
Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak
- Ada beberapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak terjadi akibat pengaruh dari game online.Misalnya peristiwa seorang anak laki-laki (9) yang nekat membakar belasan rumah warga di Desa Tipar, Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada Mei 2025.Aksi ini diduga dipicu oleh pengaruh tontonan film dan adegan dalam game online yang kemudian ditiru oleh anak tersebut.Baca juga: Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh Game Online ke PerilakuTerbaru, pada Rabu lalu, seorang anak (12) melukai ibunya yang sedang tidur menggunakan pisau di Medan Sumatera Utara, sehingga berujung meninggal dunia.Menurut keterangan polisi, salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online.Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.Baca juga: Bukan “Game”, Pelaku Ledakan SMAN 72 Terlibat Dark Web dan Komunitas KekerasanMeski demikian, peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi bukan semata-mata hanya terjadi karena game online. Melainkan juga karena faktor kerentanan lainnya.Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online berperan sebagai pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku.“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Selasa .Baca juga: Anak Bunuh Ibu di Medan akibat Game Online, Ini Kata PsikologGame bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan perubahan perilaku. Itu sebabnya dari jutaan anak bermain game kekerasan, hanya segelintir yang bertindak ekstrem.Danti menjelaskan beberapa faktor dinamika psikologis di baliknya, yakni:Pada usia 12 tahun, bagian otak prefrontal cortex (pusat kendali impuls, logika, dan konsekuensi) belum matang sempurna. Sementara itu, sistem limbik (pusat emosi) sedang sangat aktif.Ketika emosi memuncak dan merasa marah, anak tidak mampu berpikir panjang tentang konsekuensi perbuatannya.Baca juga: Soal Pembatasan Game PUBG, Komdigi Tidak Akan Bertindak SendiriGame online dirancang untuk memberikan dopamin secara terus-menerus. Jika seorang anak sudah mengalami adiksi, game tersebut bukan lagi sekadar hiburan, melainkan kebutuhan emosional.Ada efek sakau, menghapus atau melarang game secara tiba-tiba pada anak yang sedang adiksi bisa memicu reaksi kemarahan yang luar biasa.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-02-05 04:22