Tips dari Ahli agar Aman Mengemudi di Jalan Licin

2026-01-14 21:36:57
Tips dari Ahli agar Aman Mengemudi di Jalan Licin
JAKARTA, - Kondisi jalan licin kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara mobil, terutama saat hujan deras atau ketika permukaan aspal tercemar kotoran tertentu.Jika tidak diantisipasi dengan benar, maka jalan licin dapat meningkatkan risiko kendaraan mengalami selip dan kehilangan kendali.Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menjelaskan bahwa jalan licin bisa muncul dari berbagai faktor, bukan hanya karena hujan.“Jalan licin pasti berimbas mobil mengalami selip. Kondisi jalan yang licin bisa terjadi karena hujan deras yang menimbulkan genangan air, adanya tumpahan oli atau solar, debu yang berlebih, hingga hilangnya kemampuan traksi ban akibat kecepatan yang terlalu tinggi,” ujar Sony kepada Kompas.com, Senin .Baca juga: Potensi Puncak Arus Balik Libur Nataru Terjadi Awal JanuariSelain faktor kondisi jalan, Sony menambahkan bahwa kondisi kendaraan dan gaya mengemudi juga sangat berpengaruh. Penggunaan ban yang tidak sesuai spesifikasi atau kebiasaan mengemudi secara agresif dapat memperbesar risiko selip saat melintasi jalan licin.Untuk mengantisipasi hal tersebut, pengendara disarankan memastikan pemilihan tapak atau alur ban yang sesuai, serta menjaga tekanan angin ban dalam kondisi ideal. Traksi ban yang optimal menjadi kunci utama agar kendaraan tetap stabil saat melaju di permukaan jalan yang licin.kompas.com Ilustrasi ban mobil saat hujan.“Jalan licin hanya bisa diantisipasi dengan pemilihan alur atau tapak ban yang sesuai, tekanan angin ban yang pas, kecepatan yang terkontrol, serta gaya berkendara yang defensive,” kata Sony.Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip “slow but sure” saat mengemudi di kondisi jalan licin. Artinya, pengemudi harus memastikan kecepatan kendaraan selalu berada dalam batas kendali.“Kecepatan kendaraan harus benar-benar dalam kontrol pengemudi. Minimalkan koreksi kemudi, lakukan manuver secara halus, serta pastikan proses stop and go berjalan dengan halus,” ujarnya.Baca juga: Lexus RZ 600e F Sport Performance Meluncur, Lebih BertenagaDengan menerapkan gaya mengemudi yang lebih tenang dan antisipatif, risiko selip di jalan licin dapat ditekan. Pengendara pun diimbau untuk tidak terburu-buru, menjaga jarak aman, dan selalu fokus agar perjalanan tetap aman meski kondisi jalan kurang ideal.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 21:00