Ibu Lina Yakin Bisa: Melawan Kanker demi Anak di Tengah Vonis Hidup yang Tinggal 40 Persen

2026-01-12 04:32:56
Ibu Lina Yakin Bisa: Melawan Kanker demi Anak di Tengah Vonis Hidup yang Tinggal 40 Persen
PALANGKA RAYA, - Tahun 2015 menjadi momen yang menggetarkan bagi Herlina Iswahyudi.Bagaimana tidak, enam tahun setelah ditinggalkan almarhum suami, Lina -sapaan akrabnya- didiagnosis kanker payudara di tengah perjuangannya menghidupi diri sendiri dan kedua putrinya di perantauan.Penyakit yang diderita ibu tangguh ini tak main-main. Dokter mendiagnosis harapan hidup 5 tahun kemungkinan hanya 40 persen.Meski begitu, ia yakin bisa berjuang. Kekuatan itu datang dari niat mewujudkan mimpi sang buah hati. “Tahun 2015 bulan November ketahuan ada benjolan setelah diperiksa dokter," kata Lina kepada Kompas.com,  Senin .Baca juga: Kisah Saleha, Ibu Petani Inspiratif Jual Sawah Antarkan Anak Jadi TNIAgod Sucahyo, suaminya berpulang untuk selamanya pada 2009 silam. Kondisi ini membuat suasana Kota Surabaya, tempat Lina dibesarkan, merajut asa, dan menjalin cinta, berubah total. Seakan tak lagi bersahabat."Ayahnya meninggal tahun 2009 di Surabaya waktu anak pertama masih sekolah dasar,” imbuhnya.Hidupnya pun berbalik 180 derajat karena kehilangan sumber nafkah. Bisnis sang suami sebagai distributor kelapa yang sukses harus berhenti karena ketiadaan pengelola.Bagi Lina, sosok Agod Sucahyo bukan sekadar suami. Namun juga sebagai sahabat, kakak, hingga mentor. “Beliau orang yang baik, tidak hanya sosok suami, tapi juga teman, sahabat, kakak, mentor, dan segalanya bagi saya,” kenangnya.Baca juga: Brimob Polda Riau Temukan Jenazah Ibu dan Anak yang Terseret Banjir di AgamPada 2012, Lina kemudian memutuskan untuk merantau ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kenapa ke Palangka Raya?, Lina mengatakan, mendiang sang suami pernah berpesan, jika ingin merantau pergilah ke kota ini. Dengan keyakinan penuh, Lina meninggalkan Surabaya bersama anaknya berbekal baju dan modal seadanya."Almarhum suami waktu masih hidup pernah bilang, kalau mau merantau, merantaulah ke Palangka Raya, karena sahabatnya ada di sini. Akhirnya, tiga tahun setelah suami meninggal, saya memutuskan merantau membawa serta kedua anak saya ke sini, cuman bawa baju, ijazah, dan modal uang seadanya,” ungkapnya. Di kota ini, Lina bekerja di sebuah salon dengan gaji Rp 700.000 per bulan.Baca juga: Kisah Ibu Penderita Polio Jadi Tulang Punggung, Pendorong Kuota Disabilitas di Surakarta


(prf/ega)