JEMBER, - Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan untuk tidak saling melempar tanggung jawab dalam menangani warga miskin ekstrem yang tinggal di tengah lahan perkebunan dan kehutanan milik negara.Salah satunya warga yang tinggal di Dusun Silosanen dan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, tempat warga hidup dengan fasilitas minim dan pendapatan yang tidak menentu.“Kita enggak mau saling lempar-lempar. Karena kita ini kalau merasa sebagai bagian dari pemerintah, siapapun itu, dia pasti akan merasa punya tanggung jawab,” kata Fawait ketika berbincang dengan Kompas.com, Senin .Pria yang akrab disapa Gus Fawait itu menegaskan, persoalan kemiskinan ekstrem tidak hanya terjadi di wilayah desa, tetapi juga di pinggir kebun dan hutan yang beririsan dengan lahan milik BUMN.Baca juga: Ini Solusi Gus Fawait Mengentaskan Warga Miskin Ekstrem di Tengah Lahan BUMNSetidaknya ada 105.872 jiwa hidup dalam kondisi miskin ekstrem wilayah-wilayah yang berbatasan dengan kebun dan hutan itu.Sementara secara keseluruhan, Jember menanggung 222.254 jiwa penduduk miskin atau 54.284 kepala keluarga, angka tertinggi kedua di Jawa Timur.Untuk itu, upaya lain yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jember adalah memberikan perhatian lebih kepada warga miskin ekstrem, terutama mereka yang masih berada dalam usia produktif.Pemkab mendorong mereka mengikuti program peningkatan keterampilan, pelatihan kerja, hingga pendampingan usaha agar bisa masuk pasar kerja atau membuka usaha mandiri.“Bagi mereka yang sudah usia tak produktif, maka pemerintah harus hadir. Pemkab dengan segala daya upaya yang terbatas, kami akan terus memperhatikan mereka,” kata Fawait.Baca juga: Warga Tinggal di Tengah Lahan BUMN Disebut Sejahtera, Bisa Beli Mobil dan UmrahBagi warga lanjut usia atau yang tidak lagi mampu bekerja, pemerintah menyiapkan dukungan berbasis kebutuhan dasar seperti bantuan sosial, layanan kesehatan, dan pendampingan agar mereka tetap terlindungi./RODERICK ADRIAN Buniman (kanan) bersama anak dan cucunya saat ditemui di rumahnya di Dusun Silosanen, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, Jumat . Dusun Silosanen ada salah satu dusun yang masuk di sekitar area perkebunan milik BUMN, di dusun inilah terdapat warga miskin ekstrem yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh borongan di perkebunan.Kondisi Jember darurat kemiskinan ekstremKondisi kemiskinan ekstrem di Jember menimbulkan dampak sosial dan kesehatan yang serius.Fawait menjelaskan angka kematian ibu dan kematian bayi di Jember saat ini merupakan yang tertinggi di Jawa Timur.Tingginya kasus stunting juga menunjukkan keterbatasan akses kesehatan bagi warga miskin.“Angka stunting kami tertinggi di Jawa Timur. Enggak mungkin yang stunting itu anak-anak orang kaya, walaupun mungkin kecil sekali, tapi rata-rata mereka adalah orang yang mampu,” ucap Fawait.Baca juga: Warga di Tengah Lahan BUMN Bisa Dapat Bantuan CSR, tapi Harus Ajukan Proposal DuluPemkab Jember sudah menyampaikan persoalan ini di beberapa forum yang melibatkan perwakilan BUMN.Fawait akan terus melaporkan kondisi Jember ini kepada pemerintah pusat.“Kami juga tidak lelah-lelah untuk melaporkan kepada pemerintah pusat terkait masalah kondisi di Jember yang memiliki masyarakat miskin ekstrem,” kata dia.
(prf/ega)
Gus Fawait: Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab soal Miskin Ekstrem di Tengah Lahan BUMN
2026-01-12 03:44:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:23
| 2026-01-12 03:57
| 2026-01-12 02:41
| 2026-01-12 02:37
| 2026-01-12 02:20










































