Ketika Gen Z Waswas akibat KUHAP Baru, Pengamat Beri Catatan

2026-01-14 03:18:01
Ketika Gen Z Waswas akibat KUHAP Baru, Pengamat Beri Catatan
JAKARTA, - Di akhir tahun yang biasanya penuh highlights dan Q&A seru, ada satu momen yang malah bikin banyak Gen Z merasa lowkey was-was, yaitu pengesahan KUHAP baru.Bagi generasi yang kesehariannya hidup di timeline, bikin meme, satire, atau sekadar komen pedas di thread publik, perubahan aturan soal bukti elektronik dan akses data terasa sangat personal.Hal ini bukan sekadar urusan hukum yang jauh, dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia Cecep Hidayat mengatakan pembaruan itu punya niat baik, yaitu modernisasi bukti elektronik dan opsi penyelesaian di luar pengadilan.Namun, menurut dia, tujuan formal itu harus diikuti definisi operasional, mekanisme pengawasan, dan data publik yang jelas agar tidak malah melemahkan prinsip rule of law.Baca juga: KUHAP Baru, Apa Sih Dampaknya Buat Gen Z?“Kalau melihat dari perspektif rule of law, pembaharuan yang efektif itu harus meningkatkan kepastian hukum, akuntabilitas, dan juga perlindungan hak asasi. Ketika kewenangan diperluas tanpa kontrol yang jelas, maka pembaruan tersebut beresiko memperlemah rule of law itu sendiri,” ujar Cecep, Sabtu .Kekhawatiran Gen Z tidak muncul dari angin, sejumlah mahasiswa yang ditemui punya sikap yang sama, cemas soal ruang berbicara di ranah digital.Mahasiswa Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Terbuka Fawwaz Mumtazy menyebutkan, banyak teman mulai menahan diri untuk bikin konten kritis karena takut diinterpretasi berlebihan."Sekarang aja banyak anak muda yang udah insecure buat speak up. Dengan aturan yang kurang jelas boundaries-nya, saya takut people will choose silence over sharing their thoughts," ujar Fawwaz, Kamis .Baca juga: Worst Nightmare Gen Z : Diciduk Tanpa Penjelasan? Begini Aturannya di KUHAP Baru!Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia Hilmi Syafiq menggarisbawahi masalah definisi hukum yang kabur, yang bisa memberi peluang tafsir luas bagi aparat.Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Luki Baskoro khawatir soal penyitaan perangkat, bukan hanya soal kehilangan HP tapi juga semua data pribadi yang ada di dalamnya.Sementara, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FIB UI Teuku Andika mengingatkan bahwa efek dari hal tersebut adalah Indonesia kehilangan generasi yang berani bicara.Ada beberapa poin teknis yang memang bikin Gen Z panik, diantaranya pasal-pasal pada KUHAP yang menyentuh bukti elektronik rentan multitafsir, dan adanya ketentuan akses data yang dalam praktik bisa membuka ruang bagi penyitaan atau penggeledahan perangkat.Baca juga: Bukan Cuma Buruk, Ada Hal Baik di KUHAP Baru, tetapi Risiko Tetap NyataCecep menegaskan risiko itu dengan tegas bahwa jika prosedur dan wewenang penggeledahan atau penyitaan itu tidak jelas, maka aparat dapat menyita perangkat pengguna meskipun bukan tersangka.Ketika perangkat pribadi jadi target, bukan hanya postingan yang jadi perhatian, DM, draf tugas, foto, dan percakapan privat juga berpotensi terpapar, loh!.Di sini muncul kekhawatiran nyata bahwa kultur meme, parodi, atau satire yang selama ini jadi bahasa kritik anak muda, bisa terseret ke proses pidana karena tafsir yang terlalu luas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-01-14 04:11