Jangan Sembarangan, Ini Risiko Modifikasi Baterai Motor Listrik

2026-02-04 12:00:23
Jangan Sembarangan, Ini Risiko Modifikasi Baterai Motor Listrik
JAKARTA, – Modifikasi baterai pada motor listrik murah belakangan makin diminati, terutama oleh pemilik yang ingin mengejar performa lebih baik, jarak tempuh lebih panjang, atau biaya penggantian yang lebih ramah di kantong.Namun, tidak semua motor listrik mudah dimodifikasi. Model-model entry level umumnya memiliki sistem kelistrikan yang lebih sederhana sehingga memungkinkan baterai diganti dengan spesifikasi berbeda.Sementara motor listrik dari merek besar justru lebih sulit dimodifikasi karena struktur teknologinya yang kompleks dan mengutamakan keselamatan pengguna.Baca juga: Update Harga Mobil Listrik Per Desember 2025/daafa Contoh baterai motor listrik jenis Sealed Lead Acid (SLA) yang mati total. Supaya bisa hidup, harus menggunakan proses slow chargeMenurut Yansen Huang, SPV Technical BRT, pihaknya beberapa kali pernah menerima order ganti baterai motor listrik motor listrik dari merek Gesits dan Uwinfly.Ia menambahkan bahwa beberapa model lain seperti Gesits G1 atau Gesits Raya pernah ditangani. Namun, meski tergolong lebih mudah dimodifikasi, Gesits tetap memiliki tantangan teknis tersendiri.“Gesits itu kan sistemnya ngobrol sama spidometer. Jadi kalau baterainya diganti, sering enggak ke-detect, karena komunikasinya berbeda. Harus di-override, akibatnya indikator baterai tidak terbaca,” ujar Yansen, kepada Kompas.com .Baca juga: Marquez Juara MotoGP 2025: Perasaan Hampa Setelah Kemenangan/DIO DANANJAYA Ilustrasi baterai motor listrik GesitsIa menegaskan bahwa sistem komunikasi antara baterai dan motor sangat menentukan keberhasilan modifikasi.“Kalau komunikasinya enggak cocok, bisa enggak jalan,” kata dia.Dalam beberapa kasus, diperlukan langkah bypass atau pencabutan kabel tertentu agar motor tetap bisa berfungsi, meski risikonya indikator dan fitur bawaan tidak beroperasi sebagaimana mestinya.Baca juga: Kata Chery Soal Rencana Pabriknya di Indonesia/ADITYO Honda Icon e:Sebaliknya, modifikasi baterai pada motor listrik dari merek ternama terbilang hampir mustahil dilakukan.Ketika ditanya mengenai kemungkinan memasang baterai aftermarket pada Honda Icon e: atau Honda EM1 e:, Yansen memastikan belum dapat dilakukan.Ia menjelaskan bahwa sistem Honda menggunakan konfigurasi dua baterai seri dengan voltase unik serta modul ECU terpisah untuk spidometer, penggerak, hingga baterai itu sendiri.Baca juga: Diskon Motor Listrik Polytron Desember 2025, Tembus Rp 7 JutaDok. AHM Baterai motor listrik Honda CUV e:“Semua saling komunikasi. Kalau satu dicabut, mati fungsi. Desainnya memang tidak untuk di-upgrade,” ucap Yansen.Dengan demikian, pemilik motor listrik perlu memahami bahwa tidak semua model bisa dimodifikasi sesuka hati.Motor listrik entry level membuka ruang eksplorasi lebih luas, sementara merek besar memberi batasan ketat untuk menjaga keselamatan dan konsistensi performa.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-04 12:18