KUALA LUMPUR, – Seorang ayah di Malaysia memberikan sebatang rokok kepada seorang remaja yang diduga anaknya sendiri.Rokok tersebut disebut sebagai “hadiah” karena sang anak telah menyelesaikan ujian akhir pendidikan menengah atas (SPM).Setelah menyebar di media sosial, banyak warganet menyayangkan tindakan tersebut, menilai bahwa hal itu memberi contoh buruk dan berpotensi membahayakan kesehatan remaja.Baca juga: Wanita Malaysia Disebut Tinggal di Bandara 1 Tahun, Polisi Ungkap AlasannyaKasus ini turut disorot oleh Public Health Malaysia (PHM) yang memberikan pandangannya melalui unggahan di Facebook.PHM menilai tindakan sang ayah sebagai sesuatu yang jarang terjadi, bahkan di kalangan perokok berat sekalipun.“Banyak ayah merokok, tapi jarang sekali ada yang benar-benar menyerahkan rokok kepada anaknya sendiri. Bahkan perokok berat pun biasanya punya batas yang tidak akan mereka lewati,” tulis PHM, seperti dikutip dari Worl of Buzz, Kamis .Dalam unggahan yang sama, PHM membandingkan pola asuh tersebut dengan pendekatan yang diterapkan oleh astronaut pertama Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor, yang dikenal memiliki aturan jelas dalam mendidik anak-anaknya.“Sheikh Muszaphar pernah berbagi bahwa anaknya harus bisa membaca sekitar usia 4 tahun, dengan tujuan dapat membaca Al Quran pada usia 5 tahun. Ini bukan untuk pamer, tetapi karena ia percaya tahun-tahun awal sangat penting untuk membangun fondasi perkembangan yang kuat,” tulis PHM.PHM menambahkan bahwa konsistensi, struktur, rutinitas, serta kehadiran figur dewasa yang stabil sangat dibutuhkan anak-anak agar merasa aman dalam memahami dunia di sekitarnya.Baca juga: Hakim Tolak Permohonan Eks PM Malaysia Najib Razak untuk Jadi Tahanan RumahiStockphoto/Jolygon Ilustrasi otak.Menurut PHM, ayah dalam unggahan viral tersebut justru memilih memberi rokok sebagai simbol bahwa anaknya telah memasuki masa dewasa. Padahal, secara ilmiah, remaja seusia lulusan SPM masih berada dalam tahap perkembangan otak.“Ia memberi rokok sebagai hadiah ‘kamu sudah dewasa sekarang’. Ini mungkin terlihat seperti momen kebersamaan yang keren, tetapi otak anak usia 17 tahun masih berkembang,” jelas PHM.PHM menekankan bahwa korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur pengendalian diri, penilaian risiko, dan pengambilan keputusan matang, biasanya baru berkembang sepenuhnya pada usia pertengahan 20-an.Lebih lanjut, PHM memperingatkan bahwa ketika seorang ayah secara terbuka menyetujui kebiasaan merokok, anak berpotensi membentuk pola pikir bahwa tindakan tersebut aman.“Jika ayah mengizinkannya, maka pasti aman,” demikian pola pikir yang dikhawatirkan akan tertanam pada anak.
(prf/ega)
Ayah di Malaysia Beri Anaknya Rokok sebagai Hadiah Usai Ujian Sekolah, Tuai Kecaman
2026-01-12 03:57:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:10
| 2026-01-12 02:21
| 2026-01-12 02:04
| 2026-01-12 01:52
| 2026-01-12 01:48










































