Ikan Sidat Asal Indonesia Kalahkan Salmon, Jadi Sumber Omega-3 Tertinggi

2026-01-12 22:32:51
Ikan Sidat Asal Indonesia Kalahkan Salmon, Jadi Sumber Omega-3 Tertinggi
– Ikan sidat, salah satu sumber daya perikanan strategis asal Indonesia, ternyata menyimpan potensi gizi yang mengejutkan, bahkan melampaui ikan salmon yang selama ini dianggap sebagai sumber nutrisi premium.Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan temuan ini dalam sebuah seminar di Kampus Unpad, Jatinangor, Kamis .Ikan sidat (Anguilla spp.) adalah salah satu komoditas unggulan Indonesia yang sangat diminati pasar ekspor Jepang, tetapi di negeri sendiri kurang populer.Baca juga: Konflik Sengit Penguin Afrika Berburu di Lokasi yang Sama dengan Kapal IkanGadis menjelaskan, ikan sidat yang bentuknya mirip belut ini memiliki kandungan nutrisi tertinggi jika dibandingkan dengan salmon dan gabus.Ikan sidat kaya akan vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.Namun, kandungan yang paling menonjol adalah omega-3 (DHA dan EPA).DHA (asam dokosaheksaenoat) berfungsi penting dalam perkembangan dan fungsi otak.Sementara EPA (asam eicosapentaenoat) membantu menjaga kesehatan jantung dan mengurangi peradangan."Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis dikutip dari laman resmi BRIN.Temuan ini menunjukkan, sidat merupakan komoditas bernilai tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.Meskipun memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi strategis, ikan sidat menghadapi ancaman serius terhadap kelestarian populasinya. Sidat termasuk kategori biologi kritis karena siklus hidupnya yang unik, yaitu katadromus."Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” papar Gadis menerangkan kompleksitas siklus hidup sidat.shutterstock/bonchan Ilustrasi unagi filet ikan sidat. Larva kemudian berubah menjadi sidat kaca atau glass eel selama perjalanan dari laut dalam menuju estuari atau muara sungai.Siklus hidup yang melibatkan tiga ekosistem—laut, estuari, dan air tawar—membuat populasi sidat rawan terhadap berbagai ancaman dan gangguan.Tingginya permintaan pasar dan tekanan penangkapan glass eel di alam menimbulkan permasalahan pelik di Indonesia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Meski membawa teknologi kamera baru, rumor menyebut jumlah kamera belakang Xiaomi 17 Ultra justru dipangkas menjadi tiga, dari sebelumnya empat kamera pada Xiaomi 15 Ultra.Selain sensor 200 MP, ponsel ini diperkirakan mengusung kamera utama 50 MP serta kamera ultrawide 50 MP.Xiaomi juga dirumorkan bakal menjadi produsen pertama yang menghadirkan Leica APO zoom camera di ponsel. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan warna lebih akurat, detail lebih tinggi, serta performa makro yang lebih baik, termasuk dalam kondisi cahaya rendah.Di luar sektor kamera, Xiaomi 17 Ultra diperkirakan akan ditenagai chipset tercanggih Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset tersebut bakal dipadukan dengan layar OLED berukuran 6,85 inci yang mendukung resolusi tinggi dan refresh rate tinggi.Baca juga: HP Xiaomi Redmi Note 15 Series Meluncur Global, Ini SpesifikasinyaDari sisi daya, ponsel ini dirumorkan mengusung baterai berkapasitas 7.000 mAh, meningkat dari 6.000 mAh pada generasi sebelumnya, dengan dukungan pengisian cepat hingga 100 watt.Soal desain, Xiaomi 17 Ultra disebut tidak banyak berubah dari pendahulunya. Ponsel ini dikabarkan tetap mengusung layar datar tanpa tepi melengkung, serta dilengkapi pemindai sidik jari ultrasonik di bawah layar untuk menunjang keamanan.Setelah debut di China pada pekan depan, Xiaomi 17 Ultra diyakini akan meluncur ke pasar global pada kuartal pertama atau sekitar bulan Januari-Maret 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Android Headlines.

| 2026-01-12 21:37