Bertahan 8 Jam di Atas Kulkas, Juwita Selamat dari Banjir Bandang di Tapanuli Tengah

2026-01-12 02:28:59
Bertahan 8 Jam di Atas Kulkas, Juwita Selamat dari Banjir Bandang di Tapanuli Tengah
– Banjir bandang datang tanpa aba-aba dari arah perbukitan belakang permukiman warga di Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).Dalam situasi antara hidup dan mati, Juwita, suami, dan anak lelakinya hanya bisa bertahan di dalam rumah, berdiri di atas sebuah kulkas, sambil terus berdoa agar selamat.Peristiwa banjir bandang Tapanuli Tengah itu terjadi pada Selasa, 25 November 2025, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari.Sekitar pukul 09.30 WIB, air sungai yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumah Juwita mulai naik. Namun, mereka tidak menduga air akan berubah menjadi banjir bandang yang membawa lumpur, kayu gelondongan, dan batu-batu gunung.“Air datang tiba-tiba, langsung besar. Kami sudah tidak bisa keluar rumah,” kata Juwita saat ditemui Minggu .Baca juga: Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin TerancamSaat air terus meninggi, Juwita dan keluarganya sempat mengeluarkan sebuah kulkas dua pintu berwarna merah hitam dan meletakkannya di dekat pintu samping rumah. Bersama beberapa rak kayu, kulkas itu menjadi satu-satunya tempat berpijak untuk menyelamatkan diri.Selama lebih dari delapan jam, ketiganya berdiri di atas kulkas dan rak kayu, dikelilingi derasnya arus air bercampur lumpur, kayu, dan bebatuan.“Kami mengadu nasib di atas kulkas bertiga. Saya, suami, dan anak. Kami berdoa terus supaya tidak kena kayu atau batu,” ujar Juwita.Ia mengaku, jika salah satu dari kayu atau batu gunung itu menghantam tubuh mereka, kemungkinan besar tidak ada yang selamat.“Seandainya kami terkena kayu dan batu, mungkin sudah meninggal bertiga,” katanya mengenang.Baca juga: Sudah Ada Tersangka di Balik Gelondongan Kayu Banjir Tapanuli SelatanDokumentasi Betty Trifena Ritonga Betty Trifena Ritonga bersama keluarganya saat mencari mamanya yang belum ditemukan pascabanjir dan longsor di Lorong IV, Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Selasa Juwita menyebut, salah satu alasan keluarganya selamat dari maut adalah keberadaan bangunan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) yang berdiri tepat di samping rumahnya.Bangunan gereja tersebut menahan derasnya arus air, kayu gelondongan, dan batu-batu besar, sehingga aliran banjir terpecah ke kanan dan kiri, tidak langsung menghantam rumah Juwita.“Air yang harusnya menghantam rumah kami, terbelah karena tertahan di gereja,” ujarnya.Pantauan di lokasi menunjukkan, bangunan GKPI masih berdiri kokoh meski bagian dalamnya dipenuhi lumpur. Sementara di bagian luar gereja, tampak kayu-kayu gelondongan menumpuk di sisi belakang dan samping bangunan.Baca juga: Sempat Terputus Akibat Longsor, Akses Jalan di Sipirok Tapanuli Selatan Mulai Bisa DigunakanSekitar pukul 18.00 WIB, saat air mulai surut, Juwita dan keluarganya akhirnya meninggalkan rumah. Namun, untuk mencapai daratan yang lebih tinggi, mereka harus berenang menyeberangi permukiman yang berubah menjadi aliran sungai, masih dipenuhi kayu-kayu hanyut.


(prf/ega)