JAKARTA, – Suasana depan Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, kerap semrawut dengan angkot yang menunggu penumpang dan pedagang kaki lima (PKL) berjualan di trotoar.Kondisi ini membuat bangunan bersejarah Stasiun Tanjung Priok yang dibangun sejak 1914 nyaris tenggelam secara visual, meski berada di lokasi strategis dan masih aktif melayani ribuan penumpang setiap hari.Suara bising klakson kendaraan terdengar hampir setiap menit di depan Stasiun Tanjung Priok.Baca juga: Lebih dari Sekadar Stasiun, Tanjung Priok Menyimpan Jejak Sejarah Perdagangan BataviaPara pengendara menyalakan klakson untuk mendorong angkot-angkot yang mengetem agar segera berjalan. Puluhan angkot lebih senang menunggu penumpang di depan stasiun dibanding masuk ke terminal di seberangnya.Jalan di depan stasiun dilalui berbagai kendaraan, mulai dari sepeda motor, bus, hingga truk trailer, sehingga sering terjadi perebutan jalan antara angkot dan truk.Semrawutnya kondisi ini diperparah oleh keberadaan PKL yang menjajakan minuman kemasan, es kelapa, gorengan, dan rokok di atas trotoar persis depan stasiun.Keberadaan PKL dan angkot membuat megahnya bangunan putih bersejarah Stasiun Tanjung Priok seolah tenggelam."Pas pertama ke stasiun ini enggak kelihatan kalau ini stasiun karena ketutupan banyak angkot ngetem sama PKL," ungkap Sera (31), penumpang KRL Commuter Line, Jumat .Sera berharap area depan stasiun ditata lebih rapi, dengan tetap memberikan tempat khusus bagi PKL agar mereka bisa berjualan."Kalau ditertibin bagus tapi kasihan mereka, kalau bisa sih bikinin tempat aja jadi lebih tertata enggak ganggu lalu lalang masuk, dan mereka bisa tetap jualan," jelasnya.Senada, Sri (43), penumpang KRL lainnya, meminta agar PKL disediakan lokasi khusus di sekitar stasiun.Baca juga: Sisi Gelap Stasiun Tanjung Priok, Cagar Budaya yang Sempat Jadi Tempat ProstitusiIa juga menilai angkot sebaiknya tetap boleh berhenti di depan stasiun dengan durasi singkat, agar penumpang tidak harus menyeberang jalan berisiko."Kalau mereka di dalam stasiun ribet, kita harus menyeberang, kendaraan gede-gede. Lebih baik boleh berhenti sebentar, terus langsung jalan," tuturnya./ SHINTA DWI AYU Stasiun Tanjung Priok bangunan bersejarah yang pernah menjadi saksi Jakarta sebagai gerbang perdagangan dunia.Sejarawan Asep Kambali menekankan pentingnya penataan tata kelola ruang di Stasiun Tanjung Priok.
(prf/ega)
Kala Megahnya Bangunan Bersejarah Stasiun Tanjung Priok Tenggelam oleh Angkot dan PKL
2026-01-12 07:08:05
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:58
| 2026-01-12 05:37
| 2026-01-12 05:14










































