Banjir Sumatera: Kerugian Ekonomi Diprediksi Mencapai Rp 6,28 Triliun

2026-01-30 19:33:30
Banjir Sumatera: Kerugian Ekonomi Diprediksi Mencapai Rp 6,28 Triliun
- Bencana banjir di Sumatera dan Aceh tak hanya menghilangkan ratusan nyawa, tetapi juga menyebabkan kerugian material yang tak sedikit.Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira memproyeksikan, total kerugian bencana banjir di Pulau Sumatera kali ini senilai Rp 6,28 triliun.Sedangkan untuk total kerugian secara nasional akibat bencana bisa mencapai hingga Rp 68,67 triliun."Rp 68,67 triliun itu kerugian ekonomi secara nasional," kata dia, saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa .Dia merinci, kerugian tersebut mencakup kerusakan rumah penduduk, kehilangan pendapatan rumah tangga, rusaknya fasilitas infrastruktur jalan dan jembatan, serta kehilangan produksi lahan pertanian yang tergenang banjir hingga longsor.Secara spesifik, Provinsi Aceh diproyeksi mengalami kerugian senilai Rp 2,2 triliun. Sedangkan Sumatera Utara diperkirakan kehilangan Rp 2,07 triliun dan Sumatera Barat Rp 2,01 triliun.Sehingga jika ditotal untuk tiga provinsi yang mengalami musibah tersebut diprediksi nilainya mencapai Rp 6,28 triliun.Baca juga: Air Danau Singkarak Mendadak Jernih di Tengah Banjir Sumatera, Ada Apa?Melalui analisis Dampak Kerugian Ekonomi Bencana Banjir Sumatera CELIOS menggunakan data per 30 November 2025, perkiraan kerugian ekonomi banjir di Sumatera dihitung dengan 5 asumsi kerugian.Kerugian pertama adalah dari segi perumahan terdampak yang diperkirakan mencapai Rp 30 juta per rumah.Kemudian, kerugian jembatan dengan masing-masing biaya pembangunan kembali jembatan senilai Rp 1 miliar.Kerugian juga dialami pada aspek pendapatan keluarga sesuai dengan pendapatan rata-rata harian masing-masing provinsi yang dikali dengan 20 hari kerja.Sementara itu, kerugian lahan sawah dan kehilangan mencapai Rp 6.500 per kilogram (kg) dengan asumsi per hektar (Ha) menghasilkan 7 ton.Terakhir, kerugian dihitung untuk perbaikan jalan per 1.000 meter yang mencapai Rp 100 juta.Asumsi perhitungan ini menunjukkan bahwa bencana ekologis yang dipicu oleh alih fungsi lahan karena deforestasi sawit dan pertambangan sangat merugikan bagi negara.Dampak kerugian ini tidak sebanding dengan sumbangan dari tambang dan sawit bagi Provinsi Aceh.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-30 18:04