BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Sulsel, BPBD Minta Warga Waspada Saat Melaut

2026-01-16 10:10:56
BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Sulsel, BPBD Minta Warga Waspada Saat Melaut
MAKASSAR, - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan mengimbau masyarakat agar waspada saat melakukan pelayaran laut, setelah adanya peringatan cuaca ekstrem di akhir tahun 2025.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama hujan lebat dan angin kencang."Berdasarkan rilis BMKG untuk dasarian ketiga Desember 2025 (21-31 Desember), beberapa daerah di Sulsel memang masuk dalam kategori Waspada, Siaga, dan bahkan Awas," kata Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, Senin .Saat ini, sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan yang berada pada status Waspada hingga Awas, di antaranya Kabupaten Barru, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Maros, serta Kota Makassar.Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem, BMKG Prediksi Hujan Jawa Barat hingga 31 Desember 2025 di Wilayah IniAmson menerangkan bahwa kondisi tersebut berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang.Kondisi ini diperkirakan berdampak signifikan terhadap peningkatan tinggi gelombang laut di wilayah perairan Sulawesi Selatan.“Dampak paling berisiko terjadi di wilayah perairan Kabupaten Pangkep dan daerah pesisir lainnya, seiring meningkatnya tinggi gelombang yang dapat membahayakan aktivitas pelayaran dan transportasi laut,” ujarnya.Ia mengatakan telah terjadi insiden tragis akibat cuaca buruk di perairan Pulau Sarappo, Kabupaten Pangkep, yang menyebabkan sebuah kapal motor tenggelam hingga mengakibatkan korban jiwa.Baca juga: Penyebab KM Putri Sakinah Tenggelam di Labuan Bajo: Mati Mesin dan Anomali Cuaca Ekstrem“Kami menerima laporan adanya kapal motor yang tenggelam akibat cuaca ekstrem. Kejadian ini mengakibatkan tiga orang saudara kita meninggal dunia, termasuk salah satunya adalah Camat Liukang Tupabbiring. Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas peristiwa ini,” ucapnya.BPBD Sulsel meminta kepada masyarakat, nelayan, serta warga yang hendak melakukan perjalanan laut untuk mencari informasi yang jelas dari Syahbandar atau otoritas terkait."Setiap akan melakukan perjalanan melalui laut itu senantiasa mengikuti petunjuk dan sekaligus melaporkan ke Syahbandar atau otoritas terkait," tegasnya.BPBD Sulsel juga mengingatkan para pengelola obyek wisata, khususnya di wilayah perairan yang masuk kategori waspada, siaga, dan awas, agar meningkatkan kehati-hatian dan membatasi aktivitas wisata bahari.Prakirawan BMKG Nur Asia Utami menjelaskan, peringatan dini cuaca ekstrem dikeluarkan ketika terdapat potensi curah hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem, yakni lebih dari 100 milimeter per hari.“Saat ini BMKG Sulsel mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca berupa hujan sedang hingga lebat, serta peringatan dini cuaca berisiko yang diperbarui setiap hari,” ujarnya.Ia menyampaikan bahwa secara umum kondisi cuaca di wilayah Sulawesi Selatan diprediksi berawan dan berpotensi terjadi hujan ringan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 08:41