SBY dan Eks Menteri Kabinet Indonesia Bersatu "Reuni" di Thamrin

2026-01-17 00:55:43
SBY dan Eks Menteri Kabinet Indonesia Bersatu
JAKARTA, - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampak "reuni" dengan sejumlah menteri masa pemerintahannya, yakni Kabinet Indonesia Bersatu, di sebuah hotel di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin .Pengamatan Kompas.com, SBY dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu itu berkumpul dalam diskusi yang digelar Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) bertema "Keamanan Nasional Indonesia dalam Dinamika Tantangan Global".Purnomo Yusgiantoro selaku pendiri PYC dan Penasihat Presiden RI bidang Energi turut hadir.Adapun Purnomo juga dikenal sebagai mantan Menteri Pertahanan (Menhan) pada Kabinet SBY jilid dua.Baca juga: SBY, Unesa Magetan, dan Indonesia Emas 2045Selain Purnomo, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang hadir dalam acara ini antara lain mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda, eks Menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil hingga eks Menteri Kehutanan MS. Kaban.Purnomo dan SBY menyampaikan kata sambutan dalam acara ini.Keduanya menyoroti tantangan geopolitik dan keamanan nasional terkini.Para menteri Kabinet Indonesia Bersatu pun berfoto bersama dengan SBY, sesudah kata sambutan selesai.Baca juga: SBY: Siapapun Pemimpin Bangsa Jangan Abaikan Pendekatan BudayaMomen reuni itu diabadikan oleh awak media yang meliput kegiatan tersebut.Acara dilanjutkan dengan diskusi keamanan nasional oleh beberapa panelis antara lain mantan Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto, Deputi Bidang Geostrategi, Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Mayjen TNI Ari Yulianto dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 23:35