Sambil Menangis, MUA Lombok Deni alias Dea Lipa Mengaku Mentalnya Tertekan

2026-01-17 03:01:00
Sambil Menangis, MUA Lombok Deni alias Dea Lipa Mengaku Mentalnya Tertekan
MATARAM, - Di tengah hiruk-pikuk media sosial, Deni Apriadi Rahman, yang akrab disapa Dea Lipa, tiba-tiba menjadi sorotan.Pria berusia 23 tahun asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini adalah seorang make-up artist (MUA) pengantin yang berjenis kelamin laki-laki.Dengan paras cantik dan gaya berdandan seperti perempuan, Deni viral setelah video dirinya merias pengantin sambil mengenakan hijab menyebar luas.Sayangnya, popularitas ini tak datang dengan sambutan hangat. Narasi negatif bermunculan dari para pengguna media sosial, yang menurut Deni, jauh dari kebenaran."Sebuah akun media sosial memposting foto-foto saya bersama narasi yang tidak benar, penuh fitnah dan sangat melukai perasaan saya, keluarga saya, serta teman-teman yang selama ini mendukung saya.""Postingan tersebut tersebar luas di Facebook, Instagram, dan TikTok," ujar Deni saat ditemui di Mataram, Sabtu .Deni menegaskan, ia tak pernah mengenal pemilik akun tersebut. Tak ada pertemuan, komunikasi, apalagi izin untuk menggunakan foto-fotonya.Tuduhan yang dilontarkan pun berat: dari penista agama, kaum Sodom, hingga disebut sebagai "Sister Hong dari Lombok". Ia dituduh melakukan hal-hal yang tak pernah dilakukannya."Banyak narasi yang disebarkan tidak sesuai dengan kenyataan bahkan menuduh saya sebagai penista agama, kaum Sodom, Sister Hong dari Lombok, serta menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak saya lakukan," tambah dia.Dampak dari viral ini begitu menyakitkan. Deni mengaku mengalami tekanan mental yang hebat.Ribuan komentar berisi cacian, hinaan, dan ancaman teror melalui pesan pribadi membuatnya terpukul."Saya sangat terpukul secara mental, dan fisik, bahkan beberapa kali saya sempat kehilangan kendali dan mengalami pikiran berbahaya terhadap diri saya," ungkap dia sambil menangis. Akibatnya, ia terpaksa membatalkan sejumlah jadwal rias pengantin, yang tak hanya merugikan dirinya, tapi juga asisten, rekan henna artist, dan fotografer.Meski begitu, Deni memahami nilai-nilai masyarakat NTB yang menjunjung tinggi agama, budaya, dan kesopanan."Saya tidak pernah ingin menjadi penyebab kegaduhan atau menyakiti perasaan siapa pun. Melalui pernyataan ini saya ingin memperjelas sekaligus berharap bahwa tidak ada lagi kesalahpahaman yang berkembang," katanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-17 02:34