Daftar Emiten yang Riuh "Rights Issue", Pasar Modal Bersiap Sambut Aksi Jumbo

2026-01-12 07:34:57
Daftar Emiten yang Riuh
JAKARTA, - Gelombang rights issue sedang bersiap menggemparkan pasar modal. Sejumlah emiten dari berbagai sektor tengah menyiapkan aksi korporasi yang diperkirakan dapat mengerek aktivitas perdagangan dan menarik perhatian investor besar. Rights issue bukan perkara asing di bursa, namun daftar emiten yang bersiap mengeksekusinya kali ini mampu mencuri sorotan. Dari teknologi, properti, pertambangan, hingga industri aviasi, masing-masing membawa agenda strategis yang dapat mengubah arah fundamental perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Berikut deretan emiten yang diprediksi paling “riuh” dan menarik perhatian pelaku pasar.Baca juga: GMF AeroAsia Gelar Rights Issue, Angkasa Pura Inbreng Rp 5,66 TriliunPT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menjadi salah satu emiten paling disorot. Perseroan akan menerbitkan hingga 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 250, dana maksimal Rp 3,2 triliun. Pemegang saham pengendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, telah menyatakan siap menyerap Rp 1,78 triliun haknya, sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga hingga 5,65 miliar saham, apabila ada porsi HMETD yang tidak terserap. Sebagian besar dana, yakni Rp 2,8 triliun akan digelontorkan untuk ekspansi jaringan Fiber To The Home (FTTH) berteknologi WiFi-7 melalui anak usaha GPI. Penetrasi jaringan akan difokuskan untuk menggaet 2 juta pelanggan di Bali dan Lombok.Baca juga: Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) Bakal Rights Issue 1,21 Miliar Saham, Buat Apa? Dana lain akan dialokasikan untuk pelunasan biaya sewa kabel bawah laut (IRU) dan modal kerja pembangunan jaringan di Pulau Jawa. INET juga akan menerbitkan 3,07 miliar Waran Seri II yang berpotensi menyumbang tambahan dana Rp 921,6 miliar. Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan keunggulan INET semakin ditopang oleh implementasi teknologi FTTH berbasis WiFi-7 melalui kolaborasi dengan WIFI IJ. Penggunaan teknologi generasi terbaru ini memberikan diferensiasi yang kuat dibanding operator incumbent, sekaligus menurunkan risiko perang harga yang sering menekan margin di industri telekomunikasi. Dengan keunggulan teknologi tersebut, INET diperkirakan dapat mempertahankan margin yang lebih menarik di tengah kompetisi yang semakin ketat.Baca juga: Perkuat Bisnis Infrastruktur Digital, INET Teken Kesepakatan Akuisisi THC Dari sisi kinerja, pertumbuhan INET diproyeksikan akan meningkat signifikan. Pendapatan perusahaan diperkirakan melonjak menjadi Rp 916,2 miliar pada tahun kalender 2026 (FY26F), naik tajam dari Rp 123,2 miliar di tahun ini (FY25E). Laba bersih juga diprediksi meningkat drastis menjadi Rp 281,7 miliar, dibandingkan hanya Rp 13,9 miliar sebelumnya. Hal ini mencerminkan net profit margin (NPM) sebesar 30,7 persen, jauh lebih tinggi dibanding 11,3 persen pada FY25E.“Kami memproyeksikan pendapatan akan meningkat menjadi Rp916,2 miliar pada tahun buku 2026 (FY26F) dari Rp123,2 miliar pada tahun buku 2025 (FY25E), dengan laba bersih naik signifikan menjadi Rp281,7 miliar (dibandingkan Rp13,9 miliar), yang setara dengan margin laba bersih (NPM) sebesar 30,7 persen (dibandingkan 11,3 persen pada FY25E),” demikian analisa MNC Sekuritas yang diterima Kompas.com, Kamis .Baca juga: Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Bakal Tebar Dividen Tunai 50 Persen dari Laba Bersih INET telah menetapkan jadwal lengkap pelaksanaan rights issue. Aksi korporasi ini dimulai dengan masa perdagangan saham terakhir yang masih disertai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), yaitu pada 25 November 2025 untuk pasar reguler dan negosiasi, serta 27 November 2025 untuk pasar tunai. Selanjutnya, perdagangan saham tanpa HMETD akan dimulai pada 26 November 2025 di pasar reguler dan negosiasi, dan 28 November 2025 di pasar tunai. Adapun pencatatan pemegang saham dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak memperoleh HMETD jatuh pada 27 November 2025. Periode perdagangan sekaligus pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Desember 2025. Setelah itu, Waran Seri II yang diterbitkan bersamaan dengan rights issue akan mulai diperdagangkan pada 3 Desember 2025 hingga 1 Desember 2028. Waran tersebut dapat dikonversi menjadi saham baru pada periode 3 Juni 2026 hingga 1 Desember 2028.


(prf/ega)