Apa Saja Isi Tas Siaga Bencana? Ini Daftar Barangnya

2026-01-15 18:29:56
Apa Saja Isi Tas Siaga Bencana? Ini Daftar Barangnya
Tas siaga bencana adalah sebuah tas yang perlu disiapkan oleh setiap anggota keluarga untuk berjaga-jaga saat datangnya bencana atau kondisi darurat lain. Tas siaga bencana berguna sebagai persiapan untuk bertahan hidup minimal untuk tiga hari sampai bantuan datang.Bersumber dari akun Instagram BPBD DKI Jakarta (@bpbddkijakarta), ini barang-barang yang perlu ada di dalam tas bencana.Mengutip dari laman Indonesiabaik, ini daftar nomor telepon darurat yang bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan.Di tengah cuaca tak menentu akhir-akhir ini, BPBD DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk bersiapsiaga menghadapi cuaca ekstrem. Apa saja yang perlu dilakukan?Tonton juga video "1 Dekade SLG, BMKG Ajak Masyarakat Bangun Kesadaran Ancaman Bencana"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 17:36