Pengunjung Ragunan Diprediksi Tembus 80.000 Orang pada Tahun Baru 2026

2026-02-04 02:35:53
Pengunjung Ragunan Diprediksi Tembus 80.000 Orang pada Tahun Baru 2026
JAKARTA, - Pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, memprediksi jumlah pengunjung TMR pada Tahun Baru 2026 mencapai 80.000 orang."Untuk tahun baru diperkirakan 80.000 pengunjung," kata Kepala Humas Taman Margasatwa Ragunan Wahyudi Bambang kepada wartawan di Jakarta, Kamis.Bambang mengatakan, prediksi tersebut berasal dari capaian pengunjung TMR pada Tahun Baru 2025 lalu.Baca juga: Pengunjung Ragunan pada Hari Natal 2025 Tembus 50.211 OrangNamun, ia menurunkan prediksi jumlah pengunjung pada Tahun Baru 2026 nanti."Walaupun faktanya tahun lalu melebihi 100.000 pengunjung, tapi kita enggak usah tinggi-tinggi (untuk prediksi),” tuturnya.Untuk persiapan lonjakan pengunjung, pengelola melakukan sejumlah langkah guna meningkatkan keselamatan dan keamanan.Salah satunya dengan mengidentifikasi serta memangkas pohon yang memiliki tinggi lebih dari 12 meter."Hampir semua pohon, target kami yang terdekat kemarin adalah pohon yang sudah di atas 12 meter ya kita potong,” terang Bambang.“Beberapa pohon sudah kita tebang habis karena memang secara deteksi kerapuhan pohon sudah tidak layak untuk dipertahankan, jadi kita tebang,” tambahnya.Baca juga: Alasan Serikat Buruh Tolak UMP Jakarta 2026 Rp 5,73 JutaPemangkasan pohon diutamakan di jalur-jalur yang paling banyak dilalui pengunjung.Selain itu, pengunjung diimbau untuk selalu waspada terhadap kondisi cuaca dan mengantisipasi kemungkinan hujan deras saat berada di area TMR."Kami minta pengunjung menyiapkan antisipasi hujan, misalnya membawa payung atau jas hujan, dan menjaga keselamatan terutama anak-anak,” kata Bambang.TMR juga telah menyiapkan 10 titik kantong parkir di dalam area kebun binatang dengan kapasitas sekitar 6.000 mobil dan 12.000 sepeda motor.Beberapa titik parkir mobil berada di pintu timur, area dekat danau, gudang pakan, serta jalur melingkar menuju pintu selatan.Selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), waktu operasional TMR dibuka lebih awal, yakni mulai pukul 06.00 hingga 16.30 WIB.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-04 02:04