SUMATERA Utara dan Aceh adalah dua wilayah bagian barat Indonesia yang mempunyai batas bibir pantai panjang dengan Selat Malaka dan atau Samudera Hindia.Wilayah ini semestinya adalah etalase pertumbuhan ekonomi di barat Indonesia. Namun, yang terjadi adalah ironi besar. Dua provinsi tersebut menjadi “gerbang menganga” bagi masuknya narkoba dari luar negeri.Tentu saja persoalan ini tidak berdiri sendiri. Khususnya di Sumut, situasi yang terjadi di masyarakat saat ini memperlihatkan bagaimana narkoba hidup, berputar, dan berpindah melalui ruang—dari laut, kampung pesisir, hingga kota besar—dengan sangat mulus.Dari buku dan novel sejarah tentang Selat Malaka, kita hampir selalu dibubuhkan pada keadaan dramatis, selat ini adalah jalur peradaban. Namun kini, jika membaca artikel atau berita ke berita, jalur laut ini berubah menjadi koridor gelap.Saya pernah didatangi seorang pelaut Jakarta yang mencari ikan di ujung barat Indonesia. Katanya, pelaut terbiasa mengonsumsi narkoba yang berasal dari nelayan Aceh.Mereka melakukan transaksi dengan model barter: ikan hasil tangkapan ditukar dengan sabu atau ganja.Baca juga: Ancaman Tersembunyi Narkoba VapePalka yang dibawa kapal nelayan tradisional akan dipenuhi ikan dari kapal besar. Sementara para pelaut akan memperoleh sabu dan ganja yang mereka konsumsi selama melaut di Samudera Hindia.Penegak hukum mencatat bahwa narkoba, khususnya jenis sabu dan ekstasi, sekitar 90 persen masuk ke Indonesia melalui laut, terutama di Selat Malaka.Garis pantai Aceh dan Sumatera Utara yang panjang memberikan terlalu banyak titik yang bisa disusupkan oleh sindikat. Belum lagi jika menghitung wilayah Riau yang berisi ribuan pulau.Akan ada banyak fakta lapangan yang menunjukkan betapa kapal nelayan, kapal kecil berkabin rendah, hingga boat tanpa identitas bisa masuk dan keluar tanpa terdeteksi radar.Di Sumut, jalur tikus laut seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Mulai dari pesisir Asahan hingga Tanjung Balai, aktivitas keluar-masuk kapal kecil hampir sulit dibedakan antara kegiatan nelayan dan operasi penyelundupan.Itulah sebabnya Sumut kerap menjadi titik awal jaringan besar terbentuk seperti jaringan “Aceh–Sumut” yang kemudian mendistribusikan narkoba hingga ke Jawa, Bali, NTB, Kalimantan, dan Sulawesi.Begitu masuk ke Sumut, baik dari Aceh ataupun yang langsung masuk ke Sumut, narkoba jarang berhenti di sana. Ia terus bergerak. Seperti arus air yang mencari celah.Jaringan memanfaatkan jalur darat, udara, hingga laut antar-pulau. Truk logistik, mobil kontainer, kargo gelap bandara, hingga kapal penumpang menjadi kendaraan yang berfungsi ganda.Pada Agustus lalu, Polda Sumut dan BNN merilis pengungkapan kasus beberapa bulan sebelumnya dengan barang bukti 1,7 ton narkoba dan lebih dari 6.000 tersangka.
(prf/ega)
Pusaran Narkoba di Ujung Barat Indonesia
2026-01-12 05:49:50
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:11
| 2026-01-12 04:22
| 2026-01-12 04:15
| 2026-01-12 03:40










































