64 Bencana Hidrometeorologi Cianjur: Longsor Mendominasi, 2.200 Rumah Rusak

2026-01-30 07:14:56
64 Bencana Hidrometeorologi Cianjur: Longsor Mendominasi, 2.200 Rumah Rusak
CIANJUR, - Sepanjang Januari hingga November 2025, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat 64 kejadian bencana hidrometeorologi.Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur menunjukkan, tanah longsor dan pergerakan tanah menjadi bencana paling sering terjadi dengan 36 kejadian.Bencana banjir tercatat 11 kali, sementara angin puting beliung dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem berjumlah 17 kejadian."Selanjutnya, bencana banjir tercatat sebanyak 11 kejadian, serta 17 kejadian angin puting beliung dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem," ujar Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat, kepada Kompas.com melalui telepon, Senin .Baca juga: Longsor Cianjur, Ibu dan Anak Tewas TertimbunAsep menambahkan, dari seluruh kejadian tersebut, satu orang meninggal dunia dan 11 orang mengalami luka-luka.Sebanyak 2.200 unit rumah warga rusak, dan 108 rumah lainnya terdampak."Jumlah warga yang terdampak dan sempat mengungsi tercatat sebanyak 3.836 kepala keluarga atau 12.837 jiwa," kata dia.Bencana paling banyak terjadi dalam dua bulan terakhir, yaitu Oktober dan November, masing-masing sebanyak 12 kali."Untuk data kejadian bulan ini, tentunya ada, ya. Tetapi, jumlahnya masih kami rekap," ujarnya.Baca juga: Bangunan Pesantren di Atas Saluran Air Dibongkar usai Banjir CianjurAsep mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, mengingat cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir diperkirakan masih akan terjadi hingga awal tahun."Saat ini kita berada dalam status siaga bencana hidrometeorologi. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja terutama saat kondisi cuaca sedang ekstrem,” ujar Asep.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung merilis, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi dalam sepekan ke depan.Cuaca ekstrem tersebut diperkirakan melanda hampir seluruh wilayah Jawa Barat, termasuk Cianjur, hingga 4 Januari 2026.Prakiraan tersebut berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan model probabilistik.Cuaca di Jawa Barat pada sepekan ke depan umumnya cerah berawan hingga berawan pada pagi hari, sedangkan pada siang hingga malam hari berpotensi terjadi hujan ringan hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.Pada momen libur Nataru, BMKG mengimbau masyarakat serta pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu, serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.Masyarakat juga diminta memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG guna menghindari penyebaran informasi hoaks.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-30 05:07