WASHINGTON DC, — Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia yang diumumkan pada Juli lalu disebut terancam runtuh setelah AS menilai Indonesia menarik diri dari sejumlah komitmen."Mereka menarik kembali apa yang telah kami sepakati pada Juli," ujar pejabat tersebut pada Selasa tanpa merinci komitmen mana yang dimaksud.Minggu lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam sebuah acara New York Times Dealbook, juga menyinggung adanya perubahan sikap Indonesia.Baca juga: Malaysia, Thailand, dan Kamboja Dihadiahi Trump Tarif 0 Persen, Indonesia Bagaimana?Ia mengatakan bahwa Indonesia "mulai sedikit enggan" terhadap kesepakatan dagang dengan AS, meski tidak memberikan penjelasan lebih jauh.Sebaliknya, ia menilai Malaysia sebagai mitra yang lebih kooperatif setelah negara tersebut menurunkan ribuan pos tarif sehingga arus perdagangan dengan AS menjadi lebih lancar.Ketika dimintai tanggapan pada Rabu , pejabat Indonesia menyatakan bahwa proses pembahasan masih berlangsung dan belum ada isu khusus yang menghambat negosiasi."Dinamika dalam proses negosiasi itu normal. Pemerintah Indonesia berharap agar kesepakatan dapat segera dicapai dan menguntungkan kedua belah pihak," kata Haryo Limanseto, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.Kementerian tersebut dipimpin oleh Airlangga Hartarto, yang menjadi ketua perunding tarif antara Indonesia dan AS.Selain itu, seorang sumber pemerintah Indonesia menyebut bahwa saat ini masih diperlukan harmonisasi bahasa dalam dokumen kesepakatan.Tim Media Prabowo Subianto Presiden RI Prabowo Subianto menelepon Presiden RI Donald Trump terkait kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS).Pada Juli lalu, kedua negara menyatakan bahwa Indonesia setuju menghapus tarif untuk lebih dari 99 persen produk asal AS serta menghapus seluruh hambatan nontarif bagi perusahaan Amerika.Baca juga: Trump Mau Bagi-bagi Rp 33 Juta untuk Setiap Warga AS dari Penerimaan Tarif ImporSebagai imbalannya, AS akan membatalkan tarif yang sebelumnya diancamkan terhadap produk Indonesia, menurunkannya menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen.Presiden AS Donald Trump saat itu menyambut kesepakatan tersebut sebagai capaian besar.Ia menyebutnya sebagai "kemenangan besar bagi perusahaan otomotif, perusahaan teknologi, pekerja, petani, peternak, dan pelaku industri manufaktur kami."Namun menurut pejabat AS yang sama, para pejabat Indonesia telah memberi tahu Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer bahwa Jakarta tidak dapat menyetujui beberapa komitmen yang bersifat mengikat dan ingin mengubah kerangka komitmen tersebut.Para pejabat AS menilai langkah itu akan menghasilkan kesepakatan yang lebih buruk bagi AS dibanding perjanjian dagang terbaru yang telah mereka capai dengan Malaysia dan Kamboja.Sebelumnya, kantor berita Financial Times melaporkan bahwa para pejabat AS menilai Indonesia “mundur” dalam komitmen penghapusan hambatan nontarif terhadap ekspor industri dan pertanian asal AS serta dalam kesepakatan terkait isu perdagangan digital.Baca juga: Senggol Tarif Trump ke India, Putin: AS Saja Beli Bahan Bakar Nuklir dari Rusia
(prf/ega)
Kesepakatan Dagang AS–Indonesia Terancam Gagal, RI Disebut “Mundur” dari Komitmen
2026-01-12 04:32:06
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:05
| 2026-01-12 03:53
| 2026-01-12 02:41
| 2026-01-12 02:22










































