Stok Biosolar Dikeluhkan Sopir di Pati, Pemkab Akan Usulkan Penambahan Kuota

2026-01-12 13:02:26
Stok Biosolar Dikeluhkan Sopir di Pati, Pemkab Akan Usulkan Penambahan Kuota
PATI, - Minimnya ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biosolar mulai dirasakan para sopir di sejumlah wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjelang akhir tahun.Kondisi ini paling terasa di Kecamatan Sukolilo, di mana stok solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) cepat habis dalam hitungan jam.Para pengemudi kendaraan berbahan bakar solar mengaku harus mengantre sejak pagi demi mendapatkan pasokan.Namun, upaya tersebut tak selalu membuahkan hasil.Belum genap setengah hari, stok solar di SPBU sudah ludes.“Sekarang kalau mau ambil solar harus antre dari pagi. Di jalur saya banyak pengguna solar, mulai truk, bus, traktor sampai mesin penggiling padi,” ujar Rahmad, seorang sopir minibus saat mengantre di SPBU, Senin .Baca juga: Stok Tahunan Biosolar di Jember Tinggal 20 Persen, Pertamina Atur Pengiriman ke SPBUIa menuturkan, kelangkaan solar sangat berdampak pada pekerjaannya.Tak jarang, ia terpaksa meliburkan diri karena tidak mendapatkan bahan bakar untuk beroperasi.Kondisi ini jelas merugikan, terutama menjelang akhir tahun ketika kebutuhan transportasi meningkat.“Solar sekarang cepat sekali habis. Persediaannya tidak seperti biasanya. Kadang belum sampai siang sudah kosong,” keluhnya.Kelangkaan ini terjadi di tengah tingginya kebutuhan solar di Kabupaten Pati.Baca juga: Nelayan Pamekasan Akui Kesulitan Beli Biosolar untuk Melaut Selain untuk transportasi, Biosolar juga banyak digunakan untuk sektor pertanian dan distribusi barang serta jasa.Menjelang akhir tahun, aktivitas tersebut cenderung meningkat sehingga stok BBM kian tertekan.Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Indyah Tri Astuti, menjelaskan bahwa kuota solar telah ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan selama satu tahun.Pada tahun 2025, kuota Biosolar di Kabupaten Pati mencapai sekitar 155 ribu kiloliter.“Kuota sudah diatur oleh Pertamina agar mencukupi hingga akhir tahun. Namun memang di pengujung tahun biasanya konsumsi meningkat,” terangnya.Untuk mengantisipasi kondisi serupa di tahun mendatang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati telah mengusulkan penambahan kuota solar sekitar lima persen untuk tahun 2026.Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).“Untuk 2026 kami usulkan naik kurang lebih lima persen, di bawah sepuluh persen. Tapi ketentuannya tetap dari BPH Migas,” pungkasnya.


(prf/ega)