JAKARTA, - Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta yang saat ini senilai Rp 5.396.761 kerap dipersepsikan tinggi dibandingkan daerah lain.Namun, di balik angka tersebut, realitas hidup pekerja Ibu Kota menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks.Kenaikan UMP tidak serta-merta menghadirkan kehidupan yang lebih layak karena biaya hidup di Jakarta terus menekan dari berbagai sisi, terutama hunian dan transportasi.Baca juga: Gaji Jakarta Rp 5 Juta Hanya Sekadar Cukup, Bahkan Terasa KurangKepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menilai bahwa UMP Jakarta secara nominal memang terlihat besar, tetapi belum layak.“Secara nominal, UMR Jakarta di kisaran Rp 5 jutaan memang terlihat tinggi, tetapi secara ekonomi belum sepenuhnya mencerminkan standar hidup layak di kota metropolitan seperti Jakarta,” kata Rizal saat dihubungi, Rabu .Ia menjelaskan bahwa struktur biaya hidup pekerja di Jakarta saat ini didominasi oleh pengeluaran nonmakanan yang bersifat wajib dan sulit ditekan. Dua pos terbesar berasal dari kebutuhan perumahan dan transportasi.“Struktur biaya hidup didominasi oleh pengeluaran non-makanan terutama perumahan dan transportasi yang bersifat wajib dan sulit dikompresi,” ujar dia.Menurut Rizal, UMP Jakarta mungkin masih cukup untuk pekerja lajang, tetapi tidak bagi yang sudah berkeluarga.“Bagi sebagian pekerja lajang, angka ini (UMP Jakarta) mungkin cukup untuk bertahan, tetapi bagi pekerja yang menanggung keluarga atau harus tinggal dekat pusat aktivitas ekonomi, UMR cepat tergerus dan menyisakan ruang yang sangat sempit untuk tabungan, kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup,” kata dia.Dalam konteks tersebut, Rizal menegaskan bahwa UMP Jakarta saat ini lebih berfungsi sebagai batas minimum untuk bertahan hidup.“Bukan jaminan hidup layak,” tutur dia.Rizal juga menyoroti fenomena kenaikan UMP yang kerap tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup pekerja.Baca juga: Menghitung Realita Hidup Pekerja Jakarta dengan UMP Rp 5 Juta per Bulan“Kenaikan tersebut sering kalah cepat dibanding inflasi biaya hidup pada pos-pos krusial,” jelas Rizal.“Inflasi yang dirasakan pekerja perkotaan bersifat spesifik, didorong oleh sewa hunian, ongkos transportasi, dan harga pangan harian, bukan sekadar angka inflasi umum,” lanjutnya.Selain itu, struktur pasar kerja di Indonesia dinilai masih bertumpu pada upah minimum, dengan mobilitas vertikal yang lemah serta kepatuhan terhadap struktur dan skala upah yang belum optimal."Ini membuat kenaikan UMR berhenti sebagai penyesuaian administratif, bukan transformasi kesejahteraan riil,” jelas Rizal.Tekanan terbesar terhadap daya beli pekerja bergaji UMP Jakarta, lanjut Rizal, datang dari tiga pos utama.“Dari perumahan, transportasi, dan pangan yang menyerap porsi terbesar pendapatan dan bersifat sangat tidak elastis,” kata dia.Ia mencontohkan, kenaikan kecil pada sewa hunian atau ongkos komuter dapat langsung menggerus sisa pendapatan pekerja karena hampir tidak ada ruang substitusi tanpa menurunkan kualitas hidup.“Seperti tinggal semakin jauh dari tempat kerja atau menurunkan kualitas konsumsi pangan,” ujar Rizal.
(prf/ega)
Ekonom: UMP Jakarta Terlihat Tinggi, tapi Belum Cerminkan Standar Hidup Layak di Ibu Kota
2026-01-11 22:20:00
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:12
| 2026-01-11 22:05
| 2026-01-11 21:19
| 2026-01-11 20:38










































