10 Layanan AI Generatif Terpopuler di Dunia, dari ChatGPT hingga DeepSeek

2026-01-15 19:34:50
10 Layanan AI Generatif Terpopuler di Dunia, dari ChatGPT hingga DeepSeek
Ringkasan berita: - Perusahaan penyedia infrastruktur internet, Cloudflare, membagikan laporannya tentang tren internet yang diakomodasi oleh jaringan global milik perusahaan, sepanjang tahun 2025.Laporan itu merangkum pola serta berbagai tren internet, meliputi trafik internet, tingkat adopsi sistem operasi mobile, hingga layanan internet yang paling populer dipakai pengguna di seluruh dunia.Lebih spesifik, laporan berjudul "Cloudflare Radar 2025 Year in Review" ini juga merangkum tentang layanan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif yang paling populer di dunia sepanjang tahun 2025.Secara umum menurut laporan Cloudflare, pertumbuhan AI generatif pada 2025 meningkat pesat karena diramaikan dengan berbagai chatbot termasuk Perplexity, Claude, hingga Gemini.Ketiga chatbot ini melengkapi ChatGPT yang sudah lebih dulu hadir dan mempimpin daftar pada laporan Cloudflare 2024.Baca juga: CEO Global Tetap Belanja AI di 2026 meski Hasil Belum MaksimalNamun perusahaan asal Amerika Serikat ini tidak memberikan rincian pertumbuhan masing-masing layanan AI generatif tersebut dalam laporannya.Cloudflare hanya merinci daftar 10 chatbot yang paling populer di dunia tahun 2025. ChatGPT menempati peringkat teratas dalam daftar, menunjukkan bahwa chatbot dari OpenAI ini merupakan layanan AI generatif paling banyak dipakai di jaringan Cloudflare di seluruh dunia. Namun tidak dijelaskan faktor pendorong chatbot ini bisa begitu populer sepanjang tahun 2025.Claude, chatbot AI dari perusahaan AI Anthropic menempati peringkat kedua, tepat di belakang ChatGPT. Kemudian disusul oleh Perplexity di peringkat ketiga.Selain tiga nama itu, chatbot AI Google Gemini, Grok, hingga DeepSeek juga masuk dalam daftar. Agar lebih jelas, berikut rincian daftarnya secara berurutan.Cloudflare Daftar 10 besar chatbot AI generatif versi CloudflareCloudflare juga merinci layanan internet yang paling populer di dunia. Walau chatbot kian membumi, Google masih menjadi layanan internet yang paling sering dikunjungi pengguna internet global.Selain Google, YouTube dan Instagram juga jadi beberapa layanan internet terpopuler 2025. Peringkat Instagram bahkan naik dari tahun lalu (ke-7) menjadi peringkat ke-5 pada tahun ini, menunjukkan bahwa media sosial ini kian populer di internet.Baca juga: Cloudflare: Indonesia Sumber Serangan Siber DDoS Terbesar di DuniaYouTube juga mencatat pertumbuhan positif pada tahun ini, ditunjukkan dengan peringkatnya yang naik menjadi ke-7 dari tahun lalu peringkat ke-8.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 17:50