Banjir Bandang Bireuen Aceh, Kisah Dua Lansia Kehilangan Rumah dan Harapan di Usia Senja

2026-01-17 07:24:16
Banjir Bandang Bireuen Aceh, Kisah Dua Lansia Kehilangan Rumah dan Harapan di Usia Senja
- Di atas lantai rumah yang dingin dan masih berlumur lumpur, dua perempuan lanjut usia itu duduk berdampingan. Tak ada lagi dinding, apalagi atap. Yang tersisa hanyalah pertapakan rumah, penanda bisu bahwa di tempat itulah dulu kehidupan mereka bernaung.Nafsiah (65) dan kakaknya, Salbiah (70), dua lansia sekandung asal Desa Pante Baro Gle Siblah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, kehilangan segalanya setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut.Di usia senja, mereka harus menerima kenyataan pahit yakni rumah yang dibangun dan ditinggali bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam.Sabtu siang, keduanya kembali ke lokasi rumah.Baca juga: DKI Distribusikan 1,4 Ton Cabai Berkualitas Asal Aceh, Dijual di Bawah Harga PasaranBukan untuk membangun ulang, melainkan sekadar berharap masih ada barang yang bisa diselamatkan dari reruntuhan. Harapan sederhana, namun terasa berat bagi dua nenek yang saat bencana hanya mampu menyelamatkan diri dengan pakaian di badan.Dengan kerudung merah yang warnanya mulai pudar, Nafsiah menatap lurus ke depan. Di sampingnya, Salbiah lebih banyak terdiam, seolah berusaha mengingat kembali rupa rumah yang kini hanya tinggal kenangan.“Rumah kami sudah tidak ada lagi. Habis dihantam banjir,” ucap Nafsiah lirih, suaranya nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk warga yang masih membersihkan lumpur.Banjir bandang itu datang pada Rabu malam, sekitar pukul 20.00 WIB. Hujan deras mengguyur tanpa jeda. Gemuruh air terdengar semakin dekat, semakin mengancam. Tak lama kemudian, air naik dengan cepat.Tanpa sempat berpikir panjang, Nafsiah dan Salbiah bergegas keluar rumah.Tak ada waktu mengambil kain, apalagi barang berharga. Mereka hanya berpegangan satu sama lain, lalu menumpang di sebuah rumah permanen milik warga.Malam terasa begitu panjang. Air tak kunjung surut hingga pagi menjelang. Saat ketinggian air sudah mencapai leher, keduanya terpaksa berenang mencari tempat yang lebih aman.“Kami keluar hanya dengan baju di badan. Tidak sempat ambil apa-apa,” kenang Nafsiah.Baca juga: Menembus Banjir, Relawan Universitas Sunan Gresik dan Barakasra Bawa Bantuan dan Harapan ke Aceh TamiangSejak malam itu, mereka mengungsi bersama ratusan warga lain di salah satu dayah di desa. Hari-hari dijalani dengan satu tas kecil berisi barang seadanya.Kini, ketika kembali ke lokasi rumah, pemandangan yang tersisa sungguh memilukan. Atap rumah mereka tersangkut di dahan pohon. Piring, kendi air, dan perabot rumah tangga bercampur dengan kayu-kayu besar yang dibawa arus banjir.Pandangan mata kedua lansia itu tampak kosong.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-01-17 07:45